TEGAL — Kompetisi lari lintas alam tersebut digelar ALTI Provinsi Jawa Tengah dengan start dan finis di Hotel Gulala Azana Guci, Kecamatan Bumijawa. Pembukaan berlangsung Sabtu malam 24 Oktober 2026 pukul 18.30 WIB, dibuka Sekda Jateng yang juga Ketua ALTI Jateng, Sumarno.
Dari total peserta, 908 orang turun di kategori umum dan 123 lainnya berlaga dalam Kejurda ALTI Jateng. Panitia menyiapkan lima kategori lomba, yakni 45K, 25K, 15K, 7K, dan 5K atau Fun Trail.
Pembukaan malam itu langsung dilanjutkan dengan kategori Trail Run 24K yang menyusuri Gunung Slamet menuju puncak. Gunung Slamet dipilih karena statusnya sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah.
"Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan menjadi gunung yang diidam-idamkan oleh para atlet lari di Jawa Tengah," kata Project Director Slamet Trail Run dan Kejurda ALTI Jateng, Alex Fajar.
Penyelenggaraan tahun ini merupakan edisi kedua. Ajang serupa digelar di Purbalingga pada tahun lalu.
Sumarno menyebut Kejurda menjadi sarana menjaring atlet potensial yang dapat memperkuat Jawa Tengah di PON mendatang. Lari lintas alam punya tantangan tersendiri karena atlet harus menyesuaikan kemampuan fisik dengan kondisi medan dan lingkungan.
Kompetisi ini diharapkan menjadi kesempatan bagi atlet kabupaten dan kota mengukur hasil latihan sekaligus menunjukkan kemampuan terbaik. Sumarno juga membuka peluang Jawa Tengah menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional lari trail pada 2027.
Di balik kemeriahan lomba, Sumarno mengingatkan kawasan Gunung Slamet menghadapi persoalan berkurangnya sumber air. Olahraga lari lintas alam dinilai berkaitan erat dengan upaya menjaga kelestarian alam.
"Berkurangnya sumber air di Gunung Slamet harus menjadi perhatian kita bersama. Kita perlu menjaga vegetasi di kawasan ini agar kelestarian alamnya tetap terpelihara," katanya.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah penanaman pohon untuk mendukung kelestarian vegetasi di kawasan Gunung Slamet. Sumarno menegaskan keselamatan peserta tetap prioritas selama perlombaan.
"Tujuan kita berolahraga adalah agar sehat dan bahagia. Karena itu, keselamatan harus menjadi prioritas utama," tegasnya.
Pemilihan Guci sebagai lokasi lomba membawa misi memperkenalkan kembali kawasan wisata tersebut. Panitia ingin menunjukkan Guci siap kembali menjadi tujuan wisata lewat konsep sport tourism.
"Kami ingin memublikasikan bahwa Guci sudah pulih dan mengajak masyarakat dari seluruh Indonesia untuk berwisata ke Guci, Kabupaten Tegal," ujar Alex.
Panitia turut melibatkan masyarakat setempat agar penyelenggaraan kegiatan memberi manfaat lebih luas bagi warga di sekitar kawasan wisata.