Pemkot Semarang Bahas Pabrik Maggot di TPA Jatibarang, Sampah Organik Jadi Pakan Ayam dan Ikan

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:01:31 WIB
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti memimpin audiensi pembahasan pengolahan sampah organik di TPA Jatibarang, Kamis (22/10/2026).

SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menilai pengolahan sampah di TPA Jatibarang butuh skema pembiayaan di luar APBD. Karena itu, pemerintah kota membuka peluang keterlibatan berbagai pihak untuk menyediakan sarana dan mengembangkan pengolahan sampah organik di kawasan tersebut.

“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujar Agustina dalam audiensi di Semarang, Kamis (22/10/2026).

Menurut Agustina, pusat produksi maggot di TPA Jatibarang berpotensi menghubungkan pengelolaan sampah dengan kegiatan produktif warga. Sampah organik yang selama ini menumpuk bisa berubah menjadi komoditas yang punya nilai jual.

Maggot Jadi Pakan untuk Penerima Bantuan Ayam

Salah satu pemanfaatan yang dibidik ialah memasok maggot kepada masyarakat penerima bantuan ayam. Hasil budidaya juga berpotensi dipakai untuk kebutuhan pakan di sektor perikanan.

“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” jelas Agustina.

Konsep tersebut belum masuk tahap pelaksanaan. Diperlukan persiapan sarana, pengujian teknologi, dan skema kerja sama agar pengolahan berjalan sesuai kondisi lapangan.

Biodekomposer hingga Lindi untuk Pupuk Hayati

Selain budidaya maggot, Pemkot Semarang membahas pemanfaatan biodekomposer untuk membantu penguraian sampah organik. Alat itu juga diarahkan menangani bau dan limbah cair di tempat penampungan sementara (TPS) serta TPA Jatibarang.

Pembahasan mencakup potensi pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan pupuk hayati untuk sektor pertanian. Dengan pendekatan itu, hasil samping pengolahan sampah diharapkan bisa dimanfaatkan kembali, bukan sekadar menjadi limbah.

Ekonomi Sampah dan Uji Coba Benih Padi 60 Hari

Mangontang Simanjuntak menilai aspek ekonomi perlu menjadi bagian dari strategi pengelolaan sampah. Tanpa nilai ekonomi, warga disebut sulit terdorong terlibat dalam proses pengolahan.

“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” katanya.

Dalam audiensi itu, Mangontang menyerahkan benih padi varietas MSP 65 kepada Pemkot Semarang. Benih direncanakan ditanam sebagai demplot atau lahan percontohan di Kota Semarang.

Varietas tersebut disebut memiliki masa panen sekitar 60 hari. Uji coba akan memanfaatkan pupuk hayati dari hasil pengolahan limbah untuk melihat keterkaitan antara pengelolaan sampah dan kebutuhan pertanian.

Agustina berharap pengembangan pengolahan sampah organik di TPA Jatibarang bisa mengurangi timbunan sampah sekaligus membuka peluang kegiatan ekonomi baru. Gagasan itu masih memerlukan persiapan dan pengujian sebelum diterapkan lebih luas.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: jateng.idntimes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top