TEGAL — Insiden kecelakaan lalu lintas di Jalan Pancasila, Kota Tegal, kembali membuka perdebatan soal keselamatan infrastruktur jalan di jantung kota. Ahli Perancangan Kota Abdullah Sungkar menilai aspek keselamatan jalan sudah masuk kategori darurat dan meminta Pemkot Tegal bergerak cepat.
Menurut Sungkar, evaluasi tidak boleh berhenti pada dugaan tabrak lari yang menyertai insiden tersebut. Persoalan yang lebih mendasar, katanya, terletak pada rancangan geometrik jalan yang dinilai belum berpihak pada semua pengguna.
"Lepas dari dugaan peristiwa tabrak lari, maka evaluasi terhadap desain geometrik Jalan Pancasila perlu dilakukan oleh Pemkot Tegal," ujar Sungkar.
Sungkar menyoroti dimensi Jalan Pancasila yang lebar namun tidak dilengkapi pengaman seperti median jalan. Kombinasi itu, menurutnya, menempatkan pejalan kaki pada posisi rentan setiap kali hendak menyeberang.
Kelompok yang paling terdampak adalah anak-anak dan warga dengan keterbatasan fisik. Keduanya butuh waktu lebih lama untuk melintas, sementara laju kendaraan di ruas tersebut relatif tinggi.
"Bayangkan bagaimana anak-anak dan orang dewasa dengan keterbatasan fisik menyeberang Jalan Pancasila dengan dimensi yang besar tanpa median jalan," ungkapnya.
Kerentanan serupa juga ditemukan di ruas arteri primer nasional yang masih membelah kawasan pusat kota. Sungkar menyebut segmen itu membentang dari wilayah Margadana sampai perbatasan timur Kota Tegal, dengan karakter lalu lintas yang cepat dan berat.
Kondisi tersebut membuat warga yang hendak berpindah sisi jalan harus berhadapan langsung dengan arus kendaraan besar. Bagi lansia yang mengalami penurunan orientasi dan mobilitas, risiko itu bertambah.
Sungkar menekankan kepedulian terhadap tata ruang kota tidak seharusnya diukur dari lancarnya arus kendaraan bermotor. Konsep urban street yang ideal, katanya, mesti merangkul orang dewasa, anak-anak, penyandang disabilitas, hingga lanjut usia.
Pandangan itu menempatkan keselamatan pejalan kaki sebagai indikator utama keberhasilan penataan ruas jalan, bukan sekadar kapasitas kendaraan yang bisa dilewatkan.
Atas dasar itu, Sungkar mendesak Pemkot Tegal bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian duduk bersama melakukan audit keselamatan secara menyeluruh. Audit diminta mencakup sisi teknis maupun non-teknis dari ruas jalan yang dinilai rawan.
Ia juga menyoroti kawasan ikonik seperti Alun-Alun dan koridor sekitarnya. Menurutnya, area tersebut semestinya menjadi zona paling aman di dalam kota, bukan lokasi yang menyimpan potensi ancaman bagi keselamatan publik.
"Alun-alun kota dan sekitarnya seharusnya merupakan tempat yang paling aman bagi semua," pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Pemkot Tegal maupun Dinas Perhubungan Kota Tegal terkait desakan evaluasi geometrik Jalan Pancasila tersebut.