JAWA TENGAH — Gamer yang berharap chip terbaru Qualcomm bisa menjadi kuda pacu untuk bermain game AAA di laptop harus menahan ekspektasi. YouTuber Ghobso Gaming, yang dikenal rajin menguji lebih dari 200 game di perangkat bersasis Snapdragon, baru saja merilis hasil pengujian Halo: Campaign Evolved pada ASUS Zenbook A16. Hasilnya, ia hanya memberi satu bintang untuk game legendaris tersebut.
"Kabar ini tidak bagus," ujar Ghobso Gaming dalam videonya. "Saya lanjut ke level kedua dan di sanalah masalah besarnya muncul."
Masalah utama bukan terletak pada jumlah frame per detik (FPS), melainkan pada rendering tekstur yang gagal total. Di sejumlah level, tekstur tanah dan vegetasi tidak tampil sama sekali. Alhasil, pemain bisa melihat langsung menembus permukaan tanah dan mengintip bagian lain dari peta yang seharusnya tersembunyi.
Sekilas, visual ini tampak seperti genangan air yang memantulkan area lain. Padahal, itu adalah kegagalan sistem untuk memuat tekstur dasar. Yang menarik, bug ini tidak memengaruhi pergerakan karakter atau mekanisme gameplay lain, namun jelas merusak pengalaman imersi bermain.
Kabar baiknya, masalah ini berpotensi diperbaiki melalui pembaruan driver atau patch game di masa mendatang. Jika sudah diperbaiki, bukan tidak mungkin Halo: Campaign Evolved bisa berjalan mulus di perangkat Snapdragon X2 Elite Extreme.
Dari sisi performa, Ghobso Gaming mencatat angka antara 30 FPS hingga 50 FPS dengan fitur frame generation yang diaktifkan. Angka tersebut memang tidak impresif untuk ukuran game kompetitif, tetapi masih cukup layak untuk sekadar menyambi bermain di sela-sela jam kerja.
Hasil ini sejalan dengan pengujian yang dilakukan oleh Benjamin Wilson dari Windows Central. Ia menilai ASUS Zenbook A16 sebagai laptop bintang lima yang "menjawab semua ekspektasi laptop flagship Windows." Namun, Wilson juga menegaskan bahwa perangkat ini bukanlah laptop gaming, sama halnya dengan MacBook Air yang kerap menjadi pembanding utamanya.
Kegagalan ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Pengujian Wilson terhadap berbagai judul game di platform Snapdragon X menunjukkan hasil yang beragam: ada yang berjalan sempurna, ada yang masih bisa dimainkan, dan ada pula yang sama sekali tidak bisa dijalankan.
Ekosistem gaming di atas arsitektur Arm memang masih terus berkembang. Ke depannya, PC bersasis Snapdragon X diyakini mampu bersaing dengan perangkat bertenaga Intel atau AMD. Namun, sebelum driver grafis dan komponen pendukung lainnya matang, potensi besar tersebut masih sekadar janji manis di atas kertas.
Bagi pengguna di Indonesia yang tengah mempertimbangkan membeli laptop Snapdragon X untuk kebutuhan gaming, hasil uji ini menjadi catatan penting. Perangkat ini unggul dalam efisiensi daya dan performa produktivitas, tetapi untuk urusan game, masih diperlukan kesabaran menunggu optimalisasi dari pihak pengembang.