6 Desa Wisata di Jawa Tengah dengan Tradisi Unik yang Masih Lestari, Wajib Dikunjungi

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 19:20:36 WIB
Warga Desa Kandri, Semarang, mengarak gunungan hasil bumi dalam ritual Merti Bumi sebagai ungkapan syukur atas panen.

Puluhan desa wisata di Jawa Tengah menawarkan lebih dari sekadar pemandangan sawah atau udara sejuk. Di beberapa tempat, tradisi leluhur masih menjadi napas keseharian—bukan pertunjukan untuk turis semata. Mulai dari ritual tolak bala di pesisir utara hingga upacara adat di lereng Gunung Lawu, setiap desa punya cerita yang hanya bisa dirasakan langsung.

Keenam desa ini dipilih berdasarkan keunikan tradisi yang masih autentik, bukan hasil rekonstruksi untuk pariwisata. Sebagian besar sudah dikenal di kalangan peneliti budaya, namun belum ramai dikunjungi wisatawan umum.

1. Desa Kandri, Semarang: Ritual Merti Bumi dan Sedekah Gunung

Terletak di lereng Gunung Ungaran, Desa Kandri di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, masih memegang teguh tradisi Merti Bumi. Ritual ini digelar setahun sekali pada bulan Sura (Muharam) sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi. Warga membawa gunungan hasil panen—padi, sayur, buah—yang kemudian diperebutkan dalam suasana guyub.

Uniknya, ritual ini tidak melibatkan dukun atau pemimpin adat, melainkan dikelola langsung oleh pemuda desa dan perangkat kelurahan. Waktu terbaik berkunjung adalah saat perayaan berlangsung, biasanya antara Juli hingga September. Akses dari pusat Kota Semarang sekitar 40 menit menggunakan kendaraan pribadi.

2. Desa Dieng Kulon, Wonosobo: Tradisi Potong Rambut Gimbal Anak-anak

Di dataran tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon terkenal dengan tradisi ruwatan anak berambut gimbal (gimbal). Masyarakat setempat percaya rambut gimbal pada anak adalah anugerah dari leluhur, bukan sekadar fenomena genetik. Ritual pemotongan rambut dilakukan dalam upacara adat yang disebut "munggahan", biasanya digelar setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa.

Prosesinya melibatkan sesaji, doa bersama, dan kirab keliling desa. Anak yang rambutnya digunting harus dimandikan di tujuh sumber mata air—salah satunya dari Telaga Warna. Jika Anda berkunjung di luar musim upacara, tradisi ini bisa disaksikan melalui dokumentasi di rumah-rumah warga yang terbuka untuk pengunjung.

3. Desa Karanganyar, Kebumen: Tradisi Sadranan dan Sedekah Laut

Desa Karanganyar di pesisir selatan Kebumen memiliki tradisi Sadranan yang berpadu dengan sedekah laut. Setiap bulan Ruwah (Syaban), warga mengarak tumpeng dan hasil bumi ke Pantai Karangbolong. Ritual ini bukan sekadar seremonial—nelayan setempat meyakini doa bersama bisa menolak bala dan menjamin hasil tangkapan melimpah.

Yang membedakan desa ini dari desa pesisir lain adalah keterlibatan seluruh elemen masyarakat, dari anak-anak hingga sesepuh. Prosesi dimulai dari balai desa, melewati perkampungan, dan berakhir di pesisir pantai. Jika ingin menyaksikan, datanglah pada pagi hari di akhir pekan saat bulan Ruwah tiba.

4. Desa Samiran, Boyolali: Tradisi Saparan dan Kirab Gunungan

Desa Samiran di Kecamatan Selo, Boyolali, berada di kawasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu. Tradisi Saparan digelar setiap bulan Sapar sebagai bentuk syukur atas keselamatan dari bencana vulkanik. Warga membuat gunungan dari hasil bumi dan palawija, lalu diarak keliling desa sebelum akhirnya didoakan bersama di pertigaan jalan utama.

Uniknya, tradisi ini sempat terhenti saat erupsi Merapi 2010, lalu dihidupkan kembali oleh generasi muda pada 2015. Kini, Saparan menjadi ajang silaturahmi antarwarga dan perantau yang pulang kampung. Suhu di desa ini bisa mencapai 15 derajat Celsius di malam hari, jadi siapkan jaket tebal jika berkunjung.

5. Desa Parangtritis, Bantul: Tradisi Labuhan dan Larung Sesaji

Meski secara administratif masuk Daerah Istimewa Yogyakarta, Desa Parangtritis berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul, Jawa Tengah. Tradisi Labuhan di Pantai Parangtritis adalah ritual tahunan yang digelar pada bulan Sura. Sesaji berupa kain, uang logam, dan hasil bumi dilarung ke laut selatan sebagai penghormatan kepada penguasa pantai selatan.

Yang membuat tradisi ini unik adalah larangan bagi pengunjung untuk mengambil sesaji yang hanyut. Masyarakat percaya barang tersebut adalah milik makhluk halus penjaga pantai. Ritual ini biasanya berlangsung pada malam hari, diawali dengan doa bersama di Cepuri Parangkusumo. Akses dari pusat Kota Yogyakarta sekitar 45 menit berkendara.

6. Desa Tembi, Bantul: Tradisi Merti Dusun dan Wayang Kulit

Desa Tembi di Kecamatan Sewon, Bantul, terkenal dengan tradisi Merti Dusun yang digelar setiap tahun pada bulan Maulud. Ritual ini diisi dengan kirab budaya, pentas wayang kulit semalam suntuk, dan bancakan (makan bersama) di lapangan desa. Wayang yang dipentaskan biasanya lakon-lakon lokal yang jarang dipentaskan di kota besar.

Yang membedakan Tembi dari desa lain adalah keberadaan Tembi Rumah Budaya—sebuah galeri dan sanggar seni yang didirikan oleh seniman lokal. Di sini, pengunjung bisa belajar membatik, menabuh gamelan, atau sekadar menyaksikan proses pembuatan wayang. Jika beruntung, Anda bisa ikut serta dalam latihan karawitan yang digelar setiap malam Minggu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah tradisi di desa-desa ini bisa disaksikan kapan saja?
Tidak. Sebagian besar tradisi hanya digelar setahun sekali pada bulan tertentu dalam kalender Jawa. Sebaiknya cari tahu jadwal spesifik dari pengelola desa wisata setempat sebelum berkunjung.

2. Berapa biaya masuk ke desa-desa wisata ini?
Biaya masuk bervariasi dan bisa berubah sewaktu-waktu. Beberapa desa tidak memungut biaya masuk, hanya biaya parkir atau donasi sukarela. Cek langsung ke akun media sosial resmi desa wisata untuk informasi terbaru.

3. Apakah ada penginapan di sekitar desa-desa ini?
Beberapa desa memiliki homestay yang dikelola warga, terutama Desa Dieng Kulon dan Desa Samiran. Untuk desa lain, penginapan tersedia di kota terdekat dengan jarak tempuh 30-60 menit.

4. Apakah tradisi ini hanya pertunjukan untuk turis?
Tidak. Sebagian besar tradisi masih dijalankan sebagai ritual keagamaan atau adat yang sakral. Warga setempat tetap menjalankannya meski tidak ada wisatawan yang datang.

5. Bagaimana cara menuju desa-desa ini menggunakan transportasi umum?
Akses transportasi umum terbatas. Sebagian besar desa hanya bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau ojek dari terminal kota terdekat. Pertimbangkan untuk menyewa mobil atau bergabung dengan tur lokal.

Desa-desa wisata di Jawa Tengah ini membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar warisan mati. Di tengah modernisasi, warga tetap menjalankan ritual leluhur dengan kesadaran penuh—bukan karena paksaan atau demi pariwisata. Jika Anda ingin merasakan pengalaman budaya yang otentik, datanglah dengan rasa hormat, ikuti aturan setempat, dan jangan lupa untuk bertanya langsung kepada warga. Mereka biasanya senang berbagi cerita.

Reporter: Mahfud Ridwan
Back to top