KLATEN — Penyusutan lahan pertanian hingga 400 hektare dalam setahun terakhir menjadi alarm bagi DKPP Klaten. Untuk mengantisipasi penurunan produksi beras, dinas tersebut memilih untuk mengoptimalkan produktivitas lahan yang tersisa ketimbang memperluas area tanam.
Alih fungsi lahan dinilai sulit dibendung sepenuhnya, terutama di wilayah pinggiran kota yang mulai tumbuh kawasan perumahan. Kepala DKPP Klaten menyebutkan bahwa pihaknya tidak bisa melarang konversi lahan secara mutlak karena terkait dengan kebutuhan pembangunan. Oleh karena itu, strategi yang lebih realistis adalah meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas per hektare.
DKPP Klaten mendorong petani untuk menerapkan pola tanam yang lebih intensif. Jika sebelumnya sawah hanya ditanami padi sekali atau dua kali setahun, kini ditargetkan bisa tiga kali. Selain itu, pemerintah daerah juga menggencarkan program pompanisasi untuk memastikan ketersediaan air di musim kemarau. Langkah ini diyakini bisa menutup potensi kehilangan produksi akibat lahan yang menyusut.
"Kami fokus pada peningkatan produktivitas. Dengan IP yang naik, meski lahan berkurang, total produksi bisa tetap terjaga," ujar seorang pejabat DKPP Klaten.
Angka 30.070 hektare yang dirilis BPN menjadi patokan terbaru bagi DKPP dalam merancang target panen. Angka ini turun dari tahun-tahun sebelumnya yang masih di atas 30.400 hektare. Meski penyusutan terjadi, dinas optimistis produksi padi tahun ini tidak akan anjlok karena program intensifikasi sudah mulai berjalan di beberapa kecamatan sentra padi seperti Cawas, Bayat, dan Wedi.
Ke depan, DKPP Klaten akan memperketat pengawasan izin alih fungsi lahan melalui koordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional dan Dinas Penanaman Modal. Sosialisasi ke kelompok tani juga akan diperkuat agar lahan produktif tidak mudah dijual. Jika strategi ini berhasil, target produksi beras Klaten sebesar 250.000 ton per tahun diharapkan tetap tercapai meski lahan terus menyusut.