JEPARA — Wagub Jawa Tengah Taj Yasin menyebut tradisi Perang Obor yang digelar warga Desa Teluk Wetan, Jepara, bukan sekadar atraksi budaya. Tradisi yang telah berlangsung sejak abad ke-16 ini, menurutnya, menyimpan pesan moral yang dalam dan memiliki potensi besar sebagai wisata budaya unggulan.
Perang Obor merupakan ritual tahunan yang digelar masyarakat setempat untuk memperingati perjuangan Pangeran Aryo Dipati. Dalam tradisi ini, dua kelompok saling melempar obor dari pelepah kelapa kering di malam hari.
Wagub Taj Yasin menilai, di balik atraksi yang tampak ekstrem itu, terkandung nilai-nilai persaudaraan dan keberanian. "Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya, melainkan tradisi yang menyimpan pesan moral," ujarnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melihat potensi besar tradisi ini untuk menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Perang Obor dinilai memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain.
Wagub Taj Yasin mendorong Pemerintah Kabupaten Jepara untuk terus melestarikan dan mengemas tradisi ini secara profesional. "Tradisi ini memiliki potensi besar sebagai wisata budaya unggulan," tegasnya.
Pengemasan yang baik, menurutnya, bisa menjadikan Perang Obor sebagai ikon wisata budaya Jepara yang mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Tradisi Perang Obor telah diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-16. Hingga kini, ritual ini masih rutin digelar setiap tahun oleh warga Desa Teluk Wetan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara.
Kelestarian tradisi ini menunjukkan kuatnya ikatan masyarakat dengan sejarah dan budaya leluhur. Pemerintah berharap dukungan terhadap tradisi ini terus berlanjut agar tidak punah di tengah arus modernisasi.
Ke depan, Pemprov Jateng akan berkoordinasi dengan Pemkab Jepara untuk menyusun strategi promosi dan pengemasan Perang Obor sebagai agenda wisata tahunan yang terstruktur.