JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah kembali melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan perdagangan, turun 0,14 persen atau 25 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.894. Analis Pasar Uang MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai rupiah masih rawan terdepresiasi dan berpotensi menguji kembali level Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah pada pembukaan perdagangan berbalik arah dari penguatan signifikan sehari sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah sempat naik 0,48 persen atau 87 poin ke Rp17.894 per dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan pergerakan hari ini belum mampu mempertahankan momentum penguatan tersebut.
Herditya menyoroti area teknikal Rp17.954 sebagai level kunci yang perlu dicermati pelaku pasar. Jika level itu tertembus, rupiah berpotensi bergerak menguji kisaran Rp17.987 hingga Rp18.062 per dolar AS.
"Kami mencermati dari sisi teknikal, pergerakan Rupiah nampaknya rawan terdepresiasi terhadap dolar AS," kata Herditya dalam keterangannya, Kamis (1/10/2026).
Level Teknikal yang Jadi Perhatian Pelaku Pasar
Selain area resisten Rp17.954, Herditya memproyeksikan skenario terbaik bagi rupiah adalah menguat ke rentang Rp17.836 hingga Rp17.880 per dolar AS. Rentang itu menjadi acuan untuk melihat apakah tekanan jual terhadap mata uang domestik mereda dalam sesi-sesi berikutnya.
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan volatilitas yang masih tinggi di pasar valuta asing. Pelaku pasar disebut perlu mencermati setiap level teknikal karena sentimen eksternal masih mendominasi arah nilai tukar.
Indeks Dolar dan Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Emerging Market
Dinamika global masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Indeks dolar AS bergerak di kisaran 101,45 hingga 101,48, level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik ke level 5,29 persen.
Kedua faktor tersebut, menurut Herditya, berpengaruh negatif terhadap emerging market termasuk Indonesia. Indeks dolar dan imbal hasil obligasi yang tinggi dapat memicu aliran keluar modal asing, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, pelemahan rupiah menambah beban biaya. Importir bahan baku dan perusahaan dengan utang valas perlu memperhitungkan potensi kenaikan biaya jika rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS.
Apa yang Perlu Dicermati Investor Selanjutnya
Investor pasar obligasi dan saham perlu memantau pergerakan indeks dolar AS serta imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun. Kedua indikator itu menjadi penentu utama arus modal asing ke pasar domestik dalam jangka pendek.
Jika tekanan eksternal mereda, rupiah berpeluang kembali ke rentang Rp17.836 hingga Rp17.880 per dolar AS. Sebaliknya, penguatan indeks dolar lebih lanjut dapat memperbesar risiko depresiasi dan menguji level psikologis Rp18.000 per dolar AS.