JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka menguat ke level Rp17.838 per dolar AS pada perdagangan Rabu (23/9), naik 46 poin atau 0,26 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Penguatan terjadi menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia sore ini, dengan pelaku pasar menanti arah suku bunga acuan.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih akan bergerak konsolidasi terhadap dolar AS menjelang RDG BI. Meski begitu, ia menilai intervensi yang telah diantisipasi beberapa hari terakhir memberi ruang penguatan tambahan bagi mata uang Garuda.
"Rupiah diperkirakan masih berkonsolidasi terhadap dolar AS menjelang RDG BI sore ini. Namun, rupiah juga berpeluang menguat oleh intervensi yang telah diantisipasi beberapa hari terakhir," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi
Pergerakan rupiah terjadi di tengah kinerja mata uang Asia yang tidak seragam terhadap dolar AS. Sejumlah mata uang kawasan mencatat penguatan, sementara sebagian lainnya melemah tipis.
- Peso Filipina menguat 0,16 persen
- Ringgit Malaysia terapresiasi 0,14 persen
- Won Korea Selatan menguat 0,07 persen
- Yuan China melemah 0,03 persen
- Dolar Singapura turun 0,04 persen
- Yen Jepang terkoreksi 0,15 persen
- Dolar Hong Kong bergerak datar
Pergerakan terbatas di pasar Asia mencerminkan pelaku pasar masih menahan posisi sebelum hasil RDG BI dirilis. Keputusan suku bunga acuan menjadi katalis utama yang ditunggu, terutama untuk mengukur arah imbal hasil aset berdenominasi rupiah.
Mata Uang Negara Maju Kompak Melemah
Di sisi lain, hampir seluruh mata uang negara maju tercatat melemah terhadap dolar AS. Euro turun 0,10 persen, poundsterling Inggris melemah 0,15 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,13 persen.
Dolar Kanada turun 0,09 persen, sementara franc Swiss melemah 0,10 persen. Pelemahan serentak ini menandakan dolar AS masih menjadi tujuan utama arus modal jangka pendek, meski tekanan terhadap rupiah relatif terbatas.
Yang Perlu Dicermati Investor
Bagi investor, level Rp17.838 per dolar AS menjadi titik acuan awal sesi. Jika RDG BI menghasilkan keputusan yang dianggap pasar mendukung stabilitas kurs, ruang penguatan rupiah bisa terbuka lebih lebar menuju batas bawah rentang proyeksi Lukman di Rp17.800.
Sebaliknya, jika pasar menangkap sinyal kebijakan yang kurang sesuai ekspektasi, rupiah berpotensi bergerak ke sisi atas rentang Rp17.950. Pelaku pasar obligasi dan saham perbankan biasanya paling cepat merespons arah keputusan suku bunga acuan.