JAWA TENGAH — Banyak orang tua mengira air minum dalam kemasan (AMDK) yang sudah steril pasti aman langsung dicampur dengan susu formula. Anggapan ini keliru dan berisiko bagi kesehatan bayi. Titik kritisnya bukan pada sumber airnya, melainkan pada bubuk susu formula itu sendiri yang tidak sepenuhnya steril.
Kenapa Air Harus Direbus? Ini Bukan Soal Jenis Airnya
Proses produksi bubuk susu formula tidak sama dengan susu cair UHT yang sudah melalui sterilisasi sempurna. Masih ada risiko kecil kontaminasi bakteri seperti Cronobacter sakazakii dan Salmonella pada bubuknya, baik dari pabrik maupun penyimpanan di rumah.
Menurut laman resmi IDAI, ketika susu formula dibuat dengan air yang suhunya tidak cukup tinggi, kondisi lembap dan hangat pada campuran susu justru menjadi lingkungan ideal bagi bakteri untuk berkembang biak. Air bersuhu minimal 70 derajat Celsius efektif membunuh bakteri tersebut saat bersentuhan dengan bubuk susu.
Inilah sebabnya rekomendasi WHO/FAO sejak 2007 secara spesifik menyebut ambang batas 70 derajat, bukan sekadar "air matang" atau "air hangat". Standar ini masih menjadi acuan hingga sekarang.
Air Galon untuk Bayi: Bolehkah? Apa Kata Dokter?
Air galon atau AMDK sebenarnya boleh digunakan untuk menyeduh susu formula, tetapi dengan satu syarat mutlak: tetap harus direbus hingga mendidih lalu didinginkan sampai suhu 70 derajat. Air galon yang langsung dituang tanpa direbus tidak disarankan karena tidak menjamin bubuk susu bebas dari bakteri.
Sebagian orang tua juga khawatir soal kandungan mineral dalam air kemasan yang bisa menumpuk dengan mineral di susu formula dan membebani ginjal bayi. Menurut ulasan medis di KlikDokter, kekhawatiran ini sebenarnya berlebihan untuk pemakaian sehari-hari. Kadar mineral dalam AMDK umumnya kecil dan tidak berdampak signifikan terhadap saluran cerna maupun ginjal bayi.
Yang lebih perlu diperhatikan adalah kebersihan penyimpanan. Air kemasan yang sudah dibuka dan tidak habis dalam waktu singkat tetap berisiko terkontaminasi, sehingga proses merebus tetap langkah wajib, bukan opsional.
Panduan Menyiapkan Susu Formula yang Aman di Rumah
Berikut langkah menyiapkan susu formula secara aman, mengacu pada panduan IDAI dan WHO:
- Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sebelum mulai.
- Cuci bersih botol, dot, dan peralatan minum bayi dengan air hangat dan sabun, lalu bilas. Gunakan alat sterilisasi jika tersedia.
- Bersihkan permukaan meja tempat menyiapkan susu.
- Rebus air (baik air keran matang maupun AMDK) hingga mendidih.
- Diamkan sekitar 10–30 menit hingga suhunya turun ke sekitar 70 derajat Celsius.
- Tuang air ke botol sesuai takaran, baru tambahkan bubuk susu formula sesuai instruksi pada kemasan.
- Kocok atau aduk hingga larut sempurna.
- Dinginkan susu ke suhu aman minum dengan meletakkan botol dalam wadah berisi air dingin, lalu cek suhunya dengan meneteskan sedikit ke pergelangan tangan bagian dalam.
Kesalahan Umum: Mencampur Air Panas dan Dingin
Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan orang tua adalah mencampur air panas dengan air dingin untuk mempercepat proses. IDAI menegaskan hal ini tidak boleh dilakukan karena berisiko menurunkan suhu campuran di bawah ambang aman sebelum sempat membunuh bakteri.
Jika ingin mempercepat proses pendinginan setelah bubuk susu tercampur, letakkan botol tertutup dalam wadah berisi air dingin atau es batu. Dengan cara ini, suhu air saat dicampur dengan bubuk susu tetap berada di atas 70 derajat, tetapi susu cepat dingin untuk segera diminum.
Berapa Lama Susu Formula Bertahan Setelah Diseduh?
Susu formula yang sudah diseduh sebaiknya diberikan dalam waktu 2 jam sejak dibuat. Jika tidak langsung diminum, simpan dalam kulkas bersuhu di bawah 5 derajat Celsius dan habiskan dalam 24 jam. Susu yang tersisa dari botol yang sudah diminum bayi sebaiknya dibuang, jangan disimpan untuk digunakan lagi.
Memperhatikan cara menyeduh susu formula dengan benar adalah langkah kecil yang berdampak besar bagi kesehatan pencernaan si kecil. Dengan mengikuti panduan di atas, Moms bisa memastikan kebutuhan nutrisi harian bayi terpenuhi tanpa risiko kontaminasi bakteri.