JAWA TENGAH — Kolaborasi peneliti dari Universitas Queensland dan Universitas New South Wales melahirkan pendekatan baru dalam teknologi penyelamatan bencana. Mereka memodifikasi kecoa jenis Giant Burrowing dengan chip khusus yang tertanam di tubuh serangga tersebut, memungkinkan tim penyelamat mengendalikan pergerakannya dari jarak jauh.
Mengapa Kecoa Raksasa?
Spesies Giant Burrowing bukan kecoa biasa. Serangga ini termasuk salah satu jenis kecoa terbesar dan terberat di dunia, dengan daya tahan tubuh yang ekstrem terhadap tekanan fisik.
Karakteristik tersebut membuatnya ideal untuk melintasi puing-puing reruntuhan bangunan yang runtuh akibat gempa atau ledakan. Kemampuannya bertahan di lingkungan ekstrem menjadi nilai lebih dibandingkan robot mekanik konvensional yang kerap gagal beroperasi di medan tidak stabil.
Cara Kerja Chip Pengendali
Chip yang dipasang pada tubuh kecoa berfungsi sebagai penerima sinyal dari operator. Peneliti mengirimkan perintah untuk mengarahkan pergerakan serangga melewati celah-celah sempit di antara material bangunan.
Dalam skenario uji, kecoa ini bisa membawa obat-obatan atau perlengkapan medis kecil ke lokasi korban yang terjebak. Hal ini memberi waktu bagi tim penyelamat untuk melakukan evakuasi tanpa harus membongkar puing secara manual.
Masih Perlu Pengembangan Lanjutan
Meski hasil awal menjanjikan, tim peneliti mengakui teknologi ini belum siap digunakan dalam operasi penyelamatan nyata. Masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, termasuk ketahanan chip dalam kondisi lembap dan kemampuan kontrol saat kecoa bergerak di permukaan tidak rata.
Pengujian lebih lanjut di lapangan dengan simulasi skala besar diperlukan sebelum teknologi ini bisa direkomendasikan kepada badan penanggulangan bencana di berbagai negara.
Potensi Adopsi di Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan tingkat aktivitas seismik tinggi menjadi salah satu pasar potensial untuk teknologi ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat kerap menghadapi kendala dalam proses pencarian korban di lokasi bangunan runtuh.
Jika penelitian ini berhasil melewati tahap uji klinis, bukan tidak mungkin teknologi kecoa penyelamat ini menjadi bagian dari perlengkapan standar tim SAR nasional dalam beberapa tahun ke depan.