JAWA TENGAH — Pergerakan rupiah pagi ini kontras dengan sejumlah mata uang Asia lainnya. Ringgit Malaysia justru mencatat penguatan 0,31 persen, disusul peso Filipina yang naik 0,07 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen. Namun, mayoritas mata uang kawasan tertekan, dengan won Korea Selatan memimpin pelemahan 0,38 persen, dolar Singapura turun 0,05 persen, yen Jepang melemah 0,03 persen, dan yuan China terkoreksi 0,01 persen.
Data Inflasi PCE dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Pemicu
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari eksternal. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS menunjukkan inflasi inti kembali memanas, mencapai level yang belum terlihat sejak Oktober 2023. Kondisi ini diperparah oleh pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve yang meningkatkan spekulasi pasar soal kenaikan suku bunga acuan AS.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Dolar Perkasa di Pasar Utama, Rupiah Berpotensi Uji Level Rp18.000
Di kelompok mata uang negara maju, dolar Kanada menjadi satu-satunya yang mampu menguat 0,03 persen terhadap greenback. Sebaliknya, dolar Australia terdepresiasi 0,29 persen, euro turun 0,10 persen, franc Swiss terkoreksi 0,09 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,03 persen. Kekuatan dolar AS yang merata ini menambah sentimen negatif bagi rupiah.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS. Level psikologis Rp18.000 menjadi ujian utama bagi pasar valas domestik. Jika tekanan berlanjut, Bank Indonesia (BI) diprediksi akan kembali melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Investasi mengandung risiko.