JAWA TENGAH — Ketegangan antara Washington dan Teheran kembali memanas setelah klaim sepihak dari Presiden Donald Trump. Ia menegaskan Iran telah berkomitmen untuk mengizinkan inspektur IAEA memeriksa fasilitas nuklir mereka, meskipun Kementerian Luar Negeri Iran secara resmi membantah adanya komitmen baru.
Bantahan Iran dan Klaim "Persetujuan Internal" Trump
Trump menolak mentah-mentah bantahan dari Teheran. "Mereka salah. Mereka tahu mereka salah," kata Trump. Ia menambahkan, "Mereka sudah memberi tahu kami secara internal dan kami yakin 100 persen, akan ada inspeksi."
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Washington, seperti dilansir ANTARA dari Anadolu. Saat ditanya kapan inspektur akan diizinkan masuk, Trump menjawab singkat: "Pada waktu yang tepat. Tidak perlu terburu-buru."
Vance vs Iran: Dua Narasi yang Berbenturan
Sebelumnya, Wakil Presiden JD Vance pada Senin (22/6) mengumumkan bahwa Iran telah menyetujui pengembalian inspektur nuklir. Namun, Teheran dengan cepat membantah. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tidak ada komitmen baru terkait program nuklir maupun inspeksi internasional.
Trump merespons perbedaan narasi itu dengan nada keras. "Jika mereka benar, saya akan membatalkan pertemuan-pertemuan itu sekarang juga," ujarnya.
Kesepakatan Damai dan Klaim Rekor Minyak di Selat Hormuz
Dalam pidato terpisah di Pennsylvania, Trump kembali menegaskan Iran telah sepakat untuk "tidak pernah memiliki senjata nuklir." Ia bahkan menyebut telah tercapai kesepakatan damai bersejarah untuk mengakhiri konflik di Selat Hormuz.
"Kami meninggalkan mereka tanpa kapasitas nuklir apa pun, dan mereka telah menyetujui hal itu. Hubungan kami juga berjalan cukup baik," klaim Trump. Ia juga menyebut rekor 19 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin lalu sebagai bukti stabilitas kawasan.
Konteks Diplomasi: Antara Ancaman dan Negosiasi
Pernyataan Trump muncul di tengah kebuntuan diplomasi nuklir Iran yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sejak keluar dari Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018, AS menerapkan kebijakan tekanan maksimum melalui sanksi. Iran merespons dengan meningkatkan pengayaan uranium melebihi batas yang disepakati.
Klaim sepihak Trump soal inspeksi dan kesepakatan damai ini belum mendapatkan konfirmasi dari sumber independen. Baik IAEA maupun pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mendukung versi Washington. Yang jelas, pertarungan narasi antara Gedung Putih dan Teheran masih jauh dari kata selesai.