JAWA TENGAH — Kontroversi desain yang membuat saham Ferrari sempat anjlok 8 persen di bursa Milan rupanya tidak berpengaruh di Negeri Gajah Putih. Dilansir dari The Nation Thailand dan The Supercar, Jumat (19/6), Luce EV justru menjadi primadona baru di kalangan kolektor Thailand.
Harga Melambung Tinggi, Antusiasme Tak Surut
Perbedaan harga yang mencolok—nyaris Rp 7 miliar lebih mahal dari pasar Eropa—tidak menyurutkan minat. Mitra resmi Ferrari di Thailand, Cavallino Motors, mengonfirmasi bahwa keran pemesanan telah dibuka sejak bulan lalu.
"Meski harganya lebih mahal dari Eropa, tetapi hal itu tidak mengurangi minat dari calon pembeli. Malahan, daya tarik EV pertama Ferrari ini tampaknya justru menarik minat pembeli," tulis sumber tersebut dalam pernyataan resminya.
Pengiriman perdana untuk konsumen Thailand baru dijadwalkan pada akhir tahun depan.
CEO Ferrari Bantah Isu Sepi Peminat
Chief Executive Officer Ferrari, Benedetto Vigna, sebelumnya mengklaim bahwa Luce EV secara global justru ramai peminat. Pernyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa kendaraan tersebut seburuk yang digambarkan di media sosial.
"Kami melihat minat yang sangat kuat (terhadap Luce EV), termasuk dari pelanggan baru," kata Vigna akhir bulan lalu.
Desain 'Terlalu Jauh' dari DNA Supercar Italia
Alih-alih mendapat pujian saat peluncuran resmi, Luce EV justru dihujat habis-habisan. Kritik paling keras datang dari mantan bos Ferrari, Luca Di Montezemolo, hingga Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini. Mereka menilai mobil listrik ini kehilangan ruh Ferrari yang identik dengan mesin buas dan desain emosional.
Banyak pengamat menyebut tampilan Luce EV terlalu jauh meninggalkan identitas Ferrari sebagai supercar eksotis Italia. Reaksi negatif ini bahkan berdampak langsung ke pasar modal. Saham Ferrari sempat anjlok sekitar 8 persen di bursa Milan setelah peluncuran resmi. Sejumlah analis menyebut penurunan itu dipicu oleh 'design hate' atau ketidaksukaan publik terhadap tampilan Luce EV.
Fenomena Pasar Asia Vs Sentimen Global
Fenomena di Thailand ini menjadi ironi menarik. Di satu sisi, Eropa dan pasar global mencibir perubahan radikal Ferrari ke era elektrifikasi. Di sisi lain, pasar Asia justru menyambut hangat dengan daya beli yang tak tergoyahkan.
Belum ada konfirmasi apakah Cavallino Motors akan membuka kuota pemesanan tambahan atau membatasi jumlah unit untuk menjaga eksklusivitas. Yang jelas, Luce EV membuktikan bahwa kontroversi tidak selalu berujung pada kegagalan komersial.