SALATIGA — Sebanyak 107 UMKM di Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, menjadi tulang punggung perekonomian warga setempat. Lurah Randuacir, Indra Permadi, mengungkapkan jumlah tersebut merupakan anggota kelompok UMKM yang aktif di tingkat kelurahan.
“Keberadaan ratusan UMKM tersebut menjadi salah satu motor penggerak ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan,” ujarnya, Rabu, 17 Juni 2026.
Kampung Soesoe: Integrasi Peternakan dan Edukasi
Tidak hanya bergerak di sektor dagang dan jasa, Randuacir juga memiliki program unggulan bernama Kampung Soesoe. Program ini menyatukan rantai bisnis dari peternakan sapi perah hingga pengolahan susu dalam satu kawasan terpadu.
Menurut Indra, pengembangan Kampung Soesoe tidak sekadar mengejar kenaikan pendapatan. Ia menilai kawasan ini berpotensi menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas sekaligus destinasi wisata berbasis potensi lokal.
“Randuacir memiliki potensi unggulan melalui Kampung Soesoe yang mengintegrasikan peternakan dan pengolahan susu sapi secara terpadu,” terangnya.
Data Akurat untuk Bansos Lewat SIGAP SOSIAL
Di sisi pelayanan publik, Kelurahan Randuacir meluncurkan inovasi bernama SIGAP SOSIAL. Program ini dirancang untuk menyusun data kesejahteraan masyarakat secara lebih akurat.
Indra menjelaskan, validitas data menjadi faktor krusial dalam perencanaan dan penyaluran bantuan sosial. Dengan sistem ini, pemerintah kelurahan berharap program pemberdayaan dan bansos dapat disalurkan tanpa salah sasaran.
“Kami mempunyai inovasi SIGAP SOSIAL yang bertujuan mewujudkan ketepatan data kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Randuacir,” ujarnya.
Merti Dusun: Tradisi yang Memperkuat Gotong Royong
Di tengah modernisasi, Randuacir tetap menjaga warisan budaya. Tradisi Merti Dusun rutin digelar warga sebagai bentuk sedekah bumi dan ungkapan syukur atas hasil panen serta rezeki yang diterima.
Indra menambahkan, tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong yang memperkuat harmoni kehidupan masyarakat Randuacir. “Tradisi tersebut hingga kini masih terus dilestarikan dan menjadi simbol kuatnya kebersamaan, gotong royong, serta harmonisasi kehidupan masyarakat Randuacir,” pungkasnya.