Pencarian

100 Anak Terindikasi Stunting di Boja Kendal Dapat Program Satu Telur Sehari, Intervensi Berlangsung 3-6 Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 • 20:12:31 WIB
100 Anak Terindikasi Stunting di Boja Kendal Dapat Program Satu Telur Sehari, Intervensi Berlangsung 3-6 Bulan
anak di Boja Kendal menerima satu butir telur setiap hari sebagai intervensi penanganan stunting.

KENDAL — Langkah percepatan penanganan stunting di Kabupaten Kendal menyasar 100 anak di empat desa di Kecamatan Boja. Mereka mendapatkan tambahan asupan protein hewani berupa satu butir telur setiap hari yang didistribusikan melalui kader posyandu.

Empat desa yang menjadi lokasi program adalah Desa Boja, Bebengan, Campurejo, dan Krajan Meteseh. Pemantauan perkembangan anak dilakukan secara berkala oleh petugas kesehatan dan kader, mencakup berat badan, tinggi badan, hingga kondisi kesehatan secara umum.

Mengapa Telur Jadi Pilihan Intervensi?

Petugas Puskesmas Boja, Wiwik Dian Cahyani, mengatakan telur dipilih karena kandungan protein hewani yang tinggi dan mudah dijangkau masyarakat. Asupan protein yang cukup menjadi faktor penting dalam memperbaiki kondisi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.

"Selain mendapatkan telur, orang tua juga diberikan edukasi mengenai pola makan bergizi dan pola pengasuhan yang mendukung pertumbuhan anak. Jadi yang diperbaiki bukan hanya asupan gizinya, tetapi juga kebiasaan dalam keluarga," ujarnya.

Dukungan Program Nasional di Tingkat Desa

Kabupaten Kendal termasuk dalam 39 kabupaten/kota di Indonesia yang memperoleh program nasional percepatan penanganan stunting pada 2026. Keberadaan 100 anak yang terindikasi stunting di Boja menjadi perhatian serius karena kondisi itu bisa memengaruhi tumbuh kembang anak jika tidak segera ditangani.

General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, menyebut program Satu Telur Sehari dirancang sebagai intervensi sederhana namun efektif untuk anak-anak yang mengalami perlambatan pertumbuhan. Program ini tidak sekadar memberikan bantuan pangan, melainkan bagian dari intervensi gizi berkelanjutan.

Pemantauan Berkala dan Peran Kader Posyandu

Selama pelaksanaan program, kader posyandu menjadi garda terdepan dalam distribusi telur dan pencatatan perkembangan anak. Data berat badan dan tinggi badan anak dicatat secara rutin untuk mengukur dampak intervensi yang diberikan.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, puskesmas, dan swasta ini diharapkan memperkuat upaya penurunan angka stunting di tingkat desa secara lebih terukur dan berkelanjutan.

Bagikan
Sumber: puskapik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks