JAWA TENGAH — Lonjakan laba SeaBank ini ditopang oleh ekspansi kredit yang agresif namun tetap terkendali. Hingga Maret 2026, total penyaluran kredit bank digital milik Grup Sea ini mencapai Rp34,80 triliun, naik 40,83% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp24,71 triliun. Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley menyebut capaian ini sebagai bukti ketangguhan model bisnis bank digital dalam menjawab kebutuhan finansial masyarakat.
"Kami akan terus menjaga momentum ini dengan menghadirkan teknologi layanan keuangan, demi menciptakan akses yang lebih luas bagi setiap lapisan masyarakat," ujar Sasmaya dalam keterangan resmi, Kamis (21/5).
Pertumbuhan Aset dan DPK: CASA Mendominasi 69%
Total aset SeaBank mencapai Rp49,7 triliun per Maret 2026, tumbuh 33% dari Rp37,4 triliun di kuartal I 2025. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp39,1 triliun, naik 44,58% secara tahunan. Struktur pendanaan SeaBank tergolong sehat karena porsi dana murah (Current Account Saving Account/CASA) mendominasi hingga 69,10% dari total DPK.
Dominasi CASA ini menjadi kunci profitabilitas bank digital. Semakin tinggi porsi dana murah, semakin rendah biaya bunga yang harus dibayar bank kepada nasabah. SeaBank memanfaatkan ekosistem Shopee dan Garena milik induk usahanya untuk menggaet nasabah tabungan dengan biaya akuisisi yang lebih rendah dibanding bank konvensional.
Kredit Macet Terjaga di 1,56%, CAR di Atas Ketentuan
Ekspansi kredit yang agresif tidak membuat SeaBank lengah dalam manajemen risiko. Rasio kredit bermasalah bruto (Non-Performing Loan Gross/NPL Gross) tercatat 1,56%, masih di bawah threshold OJK sebesar 5%. Angka ini menunjukkan kualitas pinjaman yang disalurkan—terutama ke segmen retail melalui direct lending dan kemitraan multifinance—cukup terjaga.
SeaBank juga memastikan kecukupan modal yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 21,88% di akhir kuartal I 2026, jauh di atas ketentuan minimum OJK sebesar 12-14%. Rasio ini memberi ruang bagi SeaBank untuk terus berekspansi tanpa perlu buru-buru mencari tambahan modal dalam waktu dekat.
Apa Arti Kinerja SeaBank bagi Industri Bank Digital?
Kinerja SeaBank menjadi sinyal positif bagi sektor bank digital di Indonesia yang sebelumnya diragukan mampu mencapai profit berkelanjutan. Beberapa bank digital lain masih bergulat dengan biaya operasional tinggi akibat investasi teknologi dan akuisisi nasabah yang mahal. SeaBank membuktikan bahwa strategi fokus pada pinjaman konsumtif produktif dan kemitraan dengan ekosistem digital bisa menjadi jalan keluar.
Namun, investor perlu mencermati risiko konsentrasi pendanaan. Sebagian besar dana murah SeaBank bergantung pada loyalitas nasabah ekosistem Shopee dan Garena. Jika terjadi pergeseran preferensi pengguna atau tekanan regulasi terhadap afiliasi perusahaan teknologi, struktur pendanaan ini bisa terpengaruh. SeaBank juga harus menjaga rasio NPL tetap rendah di tengah potensi tekanan ekonomi makro yang bisa mempengaruhi kemampuan bayar nasabah ritel.