KEBUMEN — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan keberlanjutan program pemberian tali asih atau bisyaroh bagi para santri penghafal Al-Quran. Program ini menyasar ribuan santri di berbagai pondok pesantren sebagai bentuk apresiasi nyata atas ketekunan mereka menyelesaikan hafalan 30 juz.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Haul dan Haflah Khotmil Quran di Pondok Pesantren Tahfizul Quran (PPTQ) Quantum Qolbu, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Minggu (3/5). Taj Yasin menegaskan bahwa setiap santri yang berhasil mengkhatamkan hafalan akan menerima uang saku tambahan sebesar Rp 1 juta.
Syarat dan Nominal Bisyaroh Santri Penghafal Al-Quran
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak membatasi latar belakang daerah asal santri yang menuntut ilmu di wilayahnya. Selama santri tersebut menempuh pendidikan di pesantren yang berlokasi di Jawa Tengah, mereka berhak mendapatkan apresiasi setelah menyelesaikan hafalan 30 juz secara lengkap.
"Bisyaroh ini tidak melihat orang Jateng atau luar Jateng. Setiap selesai menghafal 30 juz, kita akan memberikan tali asih atau bisyaroh setiap anak sebesar Rp 1 juta," jelas Taj Yasin Maimoen di hadapan para wali santri.
Langkah ini diambil untuk mendorong semangat religiusitas sekaligus memberikan dukungan finansial langsung kepada para penghafal Quran. Pemprov Jateng menilai kontribusi santri dalam menjaga nilai-nilai keagamaan patut mendapatkan perhatian khusus dari negara.
Program Jangkau Santri hingga Asal Papua
Manfaat program tali asih ini telah dirasakan secara luas, bahkan oleh santri yang berasal dari luar Pulau Jawa. Taj Yasin menceritakan pengalamannya bertemu dengan orang tua santri asal Papua yang sempat terkejut melihat saldo tabungan anaknya bertambah secara tidak terduga.
Setelah ditelusuri, tambahan dana tersebut ternyata merupakan kiriman resmi dari Pemprov Jateng atas prestasi sang anak dalam menghafal Al-Quran. Hal ini membuktikan bahwa sistem distribusi bantuan telah berjalan secara merata dan tepat sasaran bagi mereka yang memenuhi kriteria.
Berdasarkan data resmi pemerintah provinsi, rata-rata terdapat sekitar 2.000 santri yang berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz setiap tahun. Skala ini menuntut alokasi anggaran yang konsisten agar seluruh santri yang berhak tetap terakomodasi tanpa terkecuali.
Target 2.000 Santri Khatam Setiap Tahun
Salah satu penerima manfaat, Nisvia Nurlaila, mengaku sangat terbantu dengan adanya program ini. Siswi Madrasah Aliyah (MA) NU Darussaadah Kebumen tersebut berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz setelah menempuh pendidikan selama tujuh tahun di pesantren.
Bagi Nisvia dan ribuan santri lainnya, uang tunai tersebut menjadi tambahan modal yang berharga untuk kebutuhan pendidikan selanjutnya. Taj Yasin memastikan bahwa alokasi anggaran akan terus disiapkan untuk menjamin keberlanjutan program ini di masa mendatang.
Pemerintah berharap program tali asih ini dapat menjaga ekosistem pendidikan pesantren di Jawa Tengah tetap produktif. Selain sebagai bentuk penghargaan, kebijakan ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus disiplin tinggi.