JAWA TENGAH — Thomas Hitzlsperger menilai sepak bola putri jauh lebih terbuka terhadap pesepak bola gay dibanding sepak bola putra. Mantan gelandang Timnas Jerman itu menegaskan, menjadi gay di sepak bola pria masih dianggap hal kontroversial hingga kini.
Hitzlsperger, yang membuka identitasnya sebagai gay pada 2012, menilai dunia sepak bola belum sepenuhnya menerima keberadaan pemain homoseksual di level profesional pria. Sepak bola wanita justru menunjukkan gambaran berbeda dengan banyaknya pesepak bola lesbian yang tampil terbuka tanpa hambatan berarti.
Pemain yang pernah memperkuat Aston Villa dan Stuttgart itu menyampaikan pandangannya dalam wawancara dengan FourFourTwo. Ia menyoroti perbedaan mencolok antara kedua cabang olahraga tersebut dalam hal penerimaan terhadap orientasi seksual.
Menurut Hitzlsperger, sepak bola wanita memiliki banyak pesepak bola lesbian yang terbuka, sehingga isu tersebut nyaris tidak lagi menjadi perdebatan. Meski begitu, ia mengingatkan cabang olahraga itu masih punya persoalan lain, terutama kebutuhan investasi untuk mengembangkan kompetisi.
"Di sepak bola wanita, ada begitu banyak pesepak bola lesbian yang terbuka sehingga hal itu tidak lagi tampak menjadi masalah. Sepak bola wanita beruntung dalam hal itu, tetapi ada kekhawatiran lain yang mereka hadapi," ujar Hitzlsperger.
Kondisi berbeda terjadi di sepak bola pria. Ia menilai menjadi gay masih dianggap tidak normal dan terus menjadi bahan perdebatan.
"Sepak bola pria sangat berbeda dan masih tidak normal untuk menjadi gay. Itu selalu kontroversial dan terus diperdebatkan," kata Hitzlsperger.
Hitzlsperger tidak berharap isu homoseksualitas di sepak bola akan segera hilang dari perbincangan. Menurutnya, selalu ada orang dengan pandangan yang tidak bisa diubah.
"Saya tidak berpikir kita akan pernah mencapai titik di mana homoseksualitas tidak akan dibahas, karena sebagian orang punya masalah. Entah karena alasan apa, mereka tidak menyukai gagasan orang menjadi gay," ucapnya.
Meski begitu, ia melihat masih ada cukup banyak orang yang terbuka untuk berdiskusi. Kelompok inilah yang ingin ia jangkau.
"Saya pikir ada cukup banyak orang yang terbuka untuk berdiskusi. Bahkan jika awalnya mereka tidak menyukai gagasan itu, setidaknya mereka mendengarkan. Mereka adalah orang-orang yang ingin saya sapa," tutur Hitzlsperger.
Ia menegaskan dirinya tidak memilih menjadi gay dan telah seperti itu sejak lama. Hitzlsperger ingin diterima tanpa harus dikritik atas kondisi yang bukan pilihannya.
Mantan penggawa Timnas Jerman itu menilai pendidikan sejak usia dini bisa menjadi jalan untuk membangun kesadaran soal diskriminasi. Anak-anak perlu diajari menghormati satu sama lain tanpa membedakan latar belakang.
"Saya sangat mendukung anak-anak belajar sejak usia dini tentang bagaimana kita harus saling menghormati dan tidak mendiskriminasi. Bagi saya, semakin awal semakin baik," ujar Hitzlsperger.
Ia mengakui diskusi soal seksualitas di sekolah bukan perkara sederhana. Sebagian pihak mempertanyakan relevansi topik itu untuk anak-anak. Namun Hitzlsperger menegaskan pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa segala bentuk diskriminasi adalah kesalahan.
"Secara keseluruhan, kita tidak bisa memulai terlalu awal untuk memberi tahu orang bahwa segala bentuk diskriminasi itu salah. Dari sana, kita bisa menjelaskan jenis-jenis diskriminasi dan bagaimana kita bisa lebih inklusif dalam masyarakat secara umum," pungkasnya.