TPA Bokong Semar Tegal Kritis Belum Setahun Beroperasi, DPRD Sidak Temukan Sampah Setinggi 9 Meter

Penulis: Lukman Hakim  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 09:31:31 WIB
Truk sampah mengantre di TPA Bokong Semar, Tegal, di tengah timbunan sampah setinggi 9 meter.

TEGAL — Rombongan dewan harus melintasi akses jalan tanah bergelombang menuju lokasi pembuangan akhir. Setibanya di sana, armada truk tua tampak mengantre panjang di tengah deru excavator yang terus memindahkan gunungan sampah.

Kondisi itu kontras dengan usia operasional TPA Bokong Semar yang baru sepuluh bulan. Fasilitas milik Pemerintah Kota Tegal ini resmi dioperasikan belum genap setahun, tetapi beban limbah sudah menembus batas wajar.

Program Gropyokan Baru Pangkas 10 Ton dari 120 Ton Sampah Harian

Pemkot Tegal sebenarnya telah meluncurkan gerakan Gropyokan Nangani Sampah untuk mereduksi volume limbah dari sumbernya. Namun data operasional menunjukkan program itu baru memangkas sekitar 10 ton sampah per hari.

Angka tersebut terbilang kecil dibanding total beban sampah harian Kota Tegal yang menembus 120 ton per hari. Artinya, pemotongan dari sumber belum mencapai 10 persen dari keseluruhan produksi sampah warga.

"Faktanya, timbunan sampah yang dibuang ke TPA sudah sangat tinggi. Program tersebut belum signifikan mengurangi sampah yang masuk. Kami mendorong agar ada evaluasi menyeluruh untuk menemukan letak kelemahannya," tegas Ketua Komisi III DPRD Kota Tegal, Sutari.

Sanitary Landfill hingga Kolam Lindi Jadi Penyangga Sementara

Untuk mengatasi krisis lahan, Pemkot Tegal menerapkan sistem sanitary landfill di TPA Bokong Semar. Metode ini menyaring air lindi melalui kolam penampungan khusus sebelum dibuang aman ke saluran lingkungan.

Skema itu hanya menahan dampak pencemaran, bukan mengurangi volume sampah yang menggunung. Karena itu, pemkot menyiapkan langkah jangka panjang lewat pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) skala menengah.

TPST Rp 4,6 Miliar Bakal Olah Sampah Jadi RDF untuk Mitra Cilacap

TPST dirancang memproses sampah non-residu menjadi bubur sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF). Produk olahan itu akan didistribusikan ke perusahaan pengolah di Cilacap.

Proyek strategis ini menyerap alokasi anggaran daerah Rp 2,3 miliar untuk pembangunan fisik dan Rp 2,3 miliar untuk pengadaan mesin pengolah. Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp 4,6 miliar.

DPRD meminta evaluasi menyeluruh atas program Gropyokan sebelum TPST beroperasi. Tanpa perbaikan di hulu, gunungan sampah di TPA Bokong Semar berpotensi terus naik meski fasilitas pengolahan baru sudah berdiri.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: radartegal.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top