BUMIJAWA — Sebanyak 3.500 benih ikan dilepas ke aliran Sungai Kumisik dan Sungai Arus, wilayah Desa Cawitali. Jenis yang dipilih adalah ikan nilem dan tawes, dua varietas air deras yang sesuai karakter habitat sungai setempat.
Penebaran terbaru berlangsung pada Oktober 2026. Kegiatan ini melanjutkan dua tahap sebelumnya yang sudah digelar di lokasi sama.
Pemdes Cawitali mengalokasikan dana dari anggaran ketahanan pangan desa, khusus sektor pemeliharaan perikanan sungai. Skema pembiayaan itu membuat kegiatan konservasi tidak bergantung pada sumbangan insidental komunitas.
Pemerintah desa dan KPS Kumisik berbagi peran. Komunitas menggerakkan warga dan menentukan titik pelepasan, sementara pemdes menyiapkan anggaran serta koordinasi administratif.
Restorasi perairan di kawasan Cawitali berjalan bertahap sejak 2025. Tahap pertama melepas sekitar 4.800 ekor benih ikan.
Awal 2026, kegiatan dilanjutkan dengan penebaran kurang lebih 1.500 ekor. Tahap ketiga pada Oktober 2026 menambah 3.500 ekor.
Akumulasi ketiga tahap menyentuh angka sekitar 9.800 ekor. Angka itu dihimpun dari seluruh pelepasan yang dilakukan KPS Kumisik bersama Pemdes Cawitali di Sungai Kumisik dan Sungai Arus.
Ketua KPS Kumisik Abdul Munawar menyebut pemilihan jenis ikan disesuaikan dengan karakter aliran sungai. Nilem dan tawes dinilai cocok hidup di perairan berarus deras seperti Kali Kumisik dan Kali Arus.
Dua varietas itu juga merupakan ikan lokal yang populasinya menurun. Pelepasan benih diharapkan memulihkan jumlah biota endemis sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
"Di wilayah Kali Kumisik dan Kali Arus, kami bersama Pemdes Cawitali kembali melakukan penebaran benih ikan air deras, di antaranya ikan nilem dan tawes. Kami berharap upaya ini tidak hanya menjadi kegiatan simbolis, tetapi benar-benar membawa manfaat bagi keberlangsungan hidup biota air, khususnya di sungai-sungai wilayah Cawitali," ujar Abdul Munawar, Jumat (23/10/2026).
Selain menambah populasi ikan, kegiatan ini menyasar kesadaran warga sekitar sungai. Warga diajak memahami bahwa aliran sungai bukan sekadar saluran air, melainkan habitat yang perlu dijaga bersama.
Pengurus komunitas menekankan agar agenda penebaran tidak berhenti sebagai seremoni. Keberlanjutan kegiatan menjadi ukuran keberhasilan konservasi di kawasan tersebut.
Bagi warga Cawitali, sungai masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Menjaga populasi ikan berarti menjaga sumber pangan air tawar sekaligus fungsi ekologis aliran sungai di lereng Bumijawa.