Dolar AS Naik 0,08% ke Rp 18.075, Rupiah Melemah 8,29% Sepanjang 2026

Penulis: Lukman Hakim  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:36:01 WIB
Dolar AS menguat 0,08% ke Rp 18.075 pada perdagangan pagi 23 Oktober 2026.

JAWA TENGAH — Dolar Amerika Serikat menguat 0,08% ke level Rp 18.075 pada perdagangan pagi 23 Oktober 2026, melanjutkan tekanan terhadap rupiah dari penutupan sebelumnya di Rp 18.060. Sepanjang tahun berjalan, mata uang Paman Sam itu sudah menguat 8,29% terhadap rupiah.

Data Bloomberg menunjukkan dolar AS bergerak di level Rp 18.000-an sejak pembukaan perdagangan. Penguatan pagi ini menambah tekanan yang sudah berlangsung sepanjang 2026, dengan rupiah kini bertahan di zona Rp 18.000 per dolar AS.

Angka dari RTI Business sedikit berbeda tipis, mencatat dolar AS menguat 0,06% ke Rp 18.060. Selisih kecil antarpenyedia data ini lazim terjadi karena perbedaan waktu pencatatan dan metodologi kuotasi.

Pergerakan Dolar AS terhadap Mata Uang Utama Dunia

Terhadap sejumlah mata uang negara besar, dolar AS bergerak variatif pagi ini. Penguatan terjadi pada franc Swiss dan yen Jepang, sementara mata uang Eropa dan Antipodean justru menguat atas dolar.

  • CHF: dolar AS menguat 0,06%
  • JPY: dolar AS menguat 0,08%
  • EUR: dolar AS melemah 0,05%
  • GBP: dolar AS melemah 0,05%
  • CAD: dolar AS melemah 0,01%
  • AUD: dolar AS melemah 0,11%

Pola variatif ini menunjukkan penguatan dolar tidak seragam di semua lini. Mata uang safe haven seperti CHF dan JPY justru masih ditekan, sementara euro dan sterling mampu menahan pelemahan terhadap dolar.

Tekanan 8,29% Sepanjang Tahun dan Artinya bagi Pelaku Pasar

Penguatan 8,29% sepanjang 2026 menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang Asia yang paling tertekan terhadap dolar. Bagi investor asing, depresiasi sebesar itu memangkas imbal hasil portofolio saham dan obligasi Indonesia jika dihitung dalam dolar.

Pelaku bisnis dengan kewajiban valas — importir bahan baku, perusahaan dengan utang dolar, hingga maskapai penerbangan — menanggung beban biaya lebih besar. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas mendapat angin segar karena pendapatan dolar mereka setara lebih banyak rupiah.

Level Rp 18.075 menjadi acuan penting bagi pasar untuk mengukur seberapa jauh Bank Indonesia akan menahan pelemahan. Intervensi di pasar valas dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi instrumen yang biasanya dipakai untuk menstabilkan kurs di level psikologis.

Fokus Pasar: Arah Dolar dan Respons Bank Indonesia

Perdagangan pagi ini masih tipis secara volume, sehingga arah dolar sepanjang hari bergantung pada data ekonomi AS yang dirilis nanti malam dan sentimen risiko global. Pasar obligasi dan saham akan mencermati apakah pelemahan rupiah berlanjut ke level baru atau berbalik menguat.

Bagi pemegang saham perbankan dan emiten dengan porsi utang valas besar, pergerakan kurs menjadi faktor risiko yang perlu dicermati dalam laporan keuangan kuartal berikutnya. Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi menekan laba bersih lewat kerugian selisih kurs.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top