BEI Keluarkan 80 Saham HSC dari IHSG Mulai November 2026, Bobot Bank Besar Menguat

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 09:35:31 WIB
BEI mengecualikan sekitar 80 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG mulai awal November 2026.

JAWA TENGAH — Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengecualikan sekitar 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai awal November 2026. Langkah ini diperkirakan mengubah komposisi indeks secara signifikan, dengan bobot saham perbankan besar berpotensi makin dominan. Analis menilai perubahan metodologi tersebut membuat IHSG lebih mencerminkan saham yang benar-benar tersedia bagi investor publik.

Riset Mirae Asset Sekuritas menyebut jumlah saham yang dikeluarkan BEI setara sekitar 18 persen dari total konstituen IHSG berdasarkan estimasi bursa. Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai penyempurnaan metodologi ini konstruktif bagi kualitas indeks.

Dasar pertimbangannya, kapitalisasi pasar yang besar tidak selalu mencerminkan besarnya jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan oleh investor publik. Saham dengan kepemilikan terkonsentrasi pada segelintir pemegang saham membuat pergerakan harganya kurang mencerminkan likuiditas pasar sebenarnya.

Mengapa BEI Mengeluarkan Saham HSC dari IHSG

Keputusan BEI menyasar emiten yang sahamnya menumpuk di tangan sedikit pemegang saham. Dalam kondisi itu, harga saham mudah bergerak meski volume transaksi tipis, sehingga kontribusinya terhadap IHSG bisa menyesatkan pembaca indeks.

Rully menyebut langkah tersebut dapat membuat IHSG lebih merepresentasikan pergerakan saham yang benar-benar tersedia bagi investor independen. Dengan begitu, indeks diharapkan lebih akurat sebagai cermin kondisi pasar modal Indonesia.

"Perubahan tersebut merupakan penyempurnaan metodologi IHSG yang konstruktif," tulis Rully dalam riset 20 Oktober 2026.

Dampak ke Komposisi Indeks: Bank Besar Jadi Motor

Pengeluaran sekitar 80 saham HSC otomatis menaikkan porsi saham-saham dengan kepemilikan tersebar dan likuiditas tinggi. Kelompok perbankan berkapitalisasi jumbo seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA berada di posisi paling diuntungkan dari pergeseran ini.

Bobot yang makin besar membuat pergerakan saham bank besar kian menentukan arah IHSG harian. Investor perlu mencermati konsekuensinya: indeks bisa lebih responsif terhadap sentimen sektor keuangan, termasuk arus modal asing yang masuk dan keluar dari saham perbankan.

Di sisi lain, saham-saham yang dikeluarkan berpotensi kehilangan pembeli pasif. Reksa dana indeks dan produk exchange-traded fund (ETF) yang melacak IHSG harus menyesuaikan portofolio, dan penyesuaian itu biasanya menekan harga saham yang keluar dari konstituen.

Apa yang Perlu Dicermati Investor

Rully menekankan bahwa kapitalisasi besar bukan jaminan saham banyak diperdagangkan publik. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat ukuran emiten, tetapi juga free float dan nilai transaksi harian sebelum mengambil posisi.

  • Sekitar 80 saham HSC keluar dari konstituen IHSG, setara 18 persen total konstituen menurut estimasi BEI.
  • Efektif berlaku awal November 2026, berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas tertanggal 20 Oktober 2026.
  • Bobot saham perbankan besar berpotensi naik, membuat indeks lebih sensitif terhadap sektor keuangan.
  • Saham yang keluar berisiko tertekan karena reksa dana indeks dan ETF harus melepas kepemilikannya.

Bagi pelaku pasar, perubahan ini menuntut penyesuaian strategi. Investor yang memegang saham HSC perlu menghitung ulang eksposur terhadap indeks, sementara investor pasif mesti memahami bahwa komposisi portofolio mereka akan bergeser mengikuti metodologi baru BEI.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top