5 Film Komedi Satir Politik yang Mengocok Perut dan Kritis

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:07:01 WIB
Film "Bapak Paling Jujur" karya Fajar Nugros mengisahkan calon gubernur yang tak mampu berbohong akibat kutukan.

JAWA TENGAH — Politik yang penuh sandiwara memang jadi bahan baku empuk buat komedi satir. Lewat tawa, sineas membongkar kebobrokan sistem hingga rekayasa media tanpa terkesan menggurui. Lima film berikut menawarkan hiburan sekaligus sindiran tajam yang relevan dengan situasi hari ini.

Daftar ini merangkum lima judul yang paling getir menyoroti kelakuan penguasa dan cara media membentuk opini publik. Semuanya bisa jadi bahan refleksi usai menonton.

1. Bapak Paling Jujur

Sutradara Fajar Nugros merilis drama komedi satir Indonesia yang mengangkat kisah Jonas Prakoso. Calon gubernur ini mendadak tak bisa berbohong gara-gara kutukan neneknya. Akibatnya, rahasia dapur politik dan kepalsuan pencitraannya terbongkar gamblang di depan publik.

2. Don't Look Up

Adam McKay menyutradarai film yang tayang global di Netflix ini. Dua astronom menemukan ancaman kiamat akibat hantaman komet raksasa. Presiden dan jajarannya justru memanfaatkan ancaman itu untuk mendongkrak elektabilitas jelang pemilu.

3. Caleg By Accident

Karya Joko Nugroho ini memotret fenomena pemilu di Indonesia lewat kisah tiga sahabat. Mereka nekat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif demi menutup masalah keuangan pribadi. Persaingan politik dan isu money politics kemudian menguji keutuhan persahabatan mereka.

4. The Hunt

Craig Zobel menyajikan satir aksi menegangkan tentang sekelompok elit kaya yang menjadikan orang biasa sebagai sasaran perburuan manusia. Motif perburuan itu berakar dari perselisihan ideologi dan konspirasi politik yang liar.

5. Vice

Film ini meracik komedi biografi cerdas soal perjalanan hidup mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney. Pria tersebut lihai memanfaatkan celah hukum untuk mengendalikan kebijakan militer dan undang-undang pertahanan.

Kelima film ini pas jadi tontonan sekaligus bahan refleksi kritis saat mengamati fenomena politik di sekitar kita.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: lampost.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top