SEMARANG — Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno menyatakan pengembangan pariwisata perlu dilakukan secara terintegrasi, bukan terpaku pada satu titik destinasi. Menurut dia, konsep aglomerasi memungkinkan sejumlah objek dengan karakteristik berbeda dikemas menjadi satu rangkaian kunjungan.
Sumarno menyampaikan hal itu seusai peluncuran dan konferensi pers Road to Rawapening Run Heritage di Wisma Perdamaian, Kota Semarang. Ajang lari itu diposisikan sebagai pintu masuk memperkenalkan Rawa Pening dan Ambarawa kepada wisatawan dari dalam maupun luar Jawa Tengah.
Menurut Sumarno, pendekatan aglomerasi memberi wisatawan lebih banyak pilihan pengalaman selama berkunjung ke Jawa Tengah. Destinasi yang tersebar di kawasan BOKOR tidak lagi ditawarkan secara terpisah-pisah.
"Kita penginnya juga bagaimana pengembangan pariwisata itu menjadi paket-paket pariwisata dalam bentuk aglomerasi," kata Sumarno.
Kawasan Ambarawa dinilai punya beragam daya tarik yang saling melengkapi, mulai dari Rawa Pening, Benteng Fort Willem I, Museum Kereta Api Ambarawa, hingga jejak sejarah Palagan Ambarawa. Kombinasi lanskap alam dan bangunan bersejarah itu disebut memberi pengalaman berbeda bagi peserta lari.
"Ini tentu saja vibe-nya sangat berbeda," ujarnya.
Rawapening Run Heritage 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026 dengan titik mulai dan finis di Benteng Fort Willem I, Kabupaten Semarang. Penyelenggara menyiapkan tiga kategori lomba: 5 kilometer, 10 kilometer, dan 21 kilometer.
Target partisipasi ditetapkan 1.500 peserta, mencakup pelari lokal, pelari nasional, komunitas lari, hingga keluarga. Pendaftaran dibuka mulai Sabtu (17/10/2026).
Kehadiran peserta dari berbagai daerah diharapkan membuka peluang ekonomi bagi sektor pariwisata dan usaha masyarakat setempat. Potensi wisata Ambarawa pun dinilai semakin dikenal luas lewat ajang ini.
Di balik promosi wisata, Sumarno mengingatkan kondisi Danau Rawa Pening yang menghadapi persoalan pendangkalan dan pencemaran. Menurut dia, pengembangan pariwisata harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
"Rawa Pening juga mengalami kerusakan, baik dari sisi pendangkalan maupun dari sisi pencemaran," ungkapnya.
Rawa Pening bukan sekadar objek wisata dan situs sejarah. Danau itu menjadi bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan warga di kawasan sekitarnya.
Sumarno mengajak masyarakat, termasuk komunitas pelari yang terlibat dalam Rawapening Run Heritage, ikut menyuarakan pentingnya menjaga kelestarian danau. Harapannya, ajang ini tidak berhenti sebagai sarana olahraga dan promosi wisata, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
"Mari kita sama-sama suarakan bagaimana kita menjaga Rawa Pening," pungkas Sumarno.