SEMARANG — Dapur Makan Bergizi Gratis di Kelurahan Karangturi, Kecamatan Semarang Timur, tidak lagi melayani distribusi makanan sejak kasus yang menimpa siswa SMK Negeri 6 Semarang mencuat. Bangunan yang sebelumnya dipakai mengolah dan menyalurkan makanan itu kini kosong tanpa aktivitas, sekitar 70 meter dari gerbang sekolah tersebut.
Penghentian permanen tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 63530 Tahun 2026. Keputusan itu memastikan SPPG Karangturi tidak akan dioperasikan kembali, dan layanan bagi 2.370 penerima manfaat dialihkan ke satuan pelayanan lain.
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat 707 orang terdampak kejadian di SMK Negeri 6 Semarang. Rinciannya, 693 siswa dan 14 guru.
Ari, pedagang yang berjualan di sekitar lokasi, menyebut aktivitas dapur sudah berhenti sejak kasus yang melibatkan siswa SMK Negeri 6 Semarang terjadi.
"Sudah tutup total beberapa bulan lalu, sudah enggak ada aktivitas setelah kasus itu di SMK 6. Sekarang sudah tidak ada aktivitas lagi," kata Ari saat ditemui di sekitar lokasi SPPG Karangturi, Rabu (14/10/2026).
Menurut Ari, bangunan tersebut merupakan rumah kosong sebelum dialihfungsikan untuk mendukung pelaksanaan program pemenuhan gizi. Operasionalnya tidak berlangsung lama.
"Sekarang sudah tidak ada aktivitas. Paling yang punya mungkin sering menengok barang-barangnya," ujarnya.
Tidak ada aktivitas pengolahan maupun distribusi makanan di bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai dapur MBG. Kondisi itu terlihat langsung dari lokasi di Jalan Sidodadi Barat.
Penghentian operasional SPPG Karangturi berkaitan dengan temuan masalah kesehatan yang melibatkan siswa SMK Negeri 6 Semarang pada Agustus 2026. Jarak dapur ke sekolah hanya sekitar 70 meter.
Layanan MBG bagi 2.370 penerima manfaat yang sebelumnya ditangani SPPG Kota Semarang Timur Karangturi harus dialihkan. Pengalihan itu berjalan setelah BGN menetapkan penghentian operasional dapur secara permanen.
BGN belum merinci satuan pelayanan mana yang mengambil alih distribusi bagi ribuan penerima tersebut. Warga di sekitar Karangturi menunggu kepastian jadwal dan titik distribusi baru.