JAWA TENGAH — Sony Group Corporation mengalihkan 419 paten teknologi extended reality (XR) kepada Meta dalam kurun Juni hingga September 2026, terdiri dari 180 paten Amerika Serikat dan 239 paten di Jepang, China, Korea Selatan, Eropa, serta sejumlah wilayah lain. Laporan ZDNet Korea Selatan menyebut 43 paten AS telah tercatat berpindah tangan, namun kedua perusahaan belum mengonfirmasi alasan maupun nilai transaksinya. Perpindahan aset ini memicu pertanyaan soal kelanjutan platform PlayStation VR di ekosistem Sony.
Catatan paten yang ditelusuri VR.org menyebut Sony Group Corporation sebagai pihak yang mengalihkan kepemilikan, bukan Sony Interactive Entertainment (SIE) yang menangani bisnis PlayStation dan PSVR2. Perbedaan entitas hukum ini menjadi krusial untuk memahami apakah transaksi benar-benar menyentuh lini produk headset konsumen Sony.
Paten yang dialihkan mencakup teknologi head-mounted display (HMD), kacamata pintar, pemrosesan gambar, hingga pengaturan tampilan objek virtual. Seluruhnya dikembangkan Sony dalam rentang 2010 hingga 2022, jauh sebelum PSVR2 meluncur pada Februari 2023.
Dari 419 paten dalam kesepakatan, 180 di antaranya terdaftar di Amerika Serikat dan 239 tersebar di Jepang, China, Korea Selatan, Eropa, serta wilayah lain. ZDNet Korea Selatan mencatat 43 paten AS telah resmi dialihkan ke Meta sepanjang Juni–September 2026.
Portofolio ini menyentuh inti teknologi XR yang selama ini menjadi fondasi pengembangan headset dan kacamata pintar. Bagi Meta, kepemilikan paten tersebut memperluas basis teknologi untuk headset dan kacamata XR generasi berikutnya.
Headset PSVR2 meluncur Februari 2023 dengan harga awal US$549,99. Spesifikasinya mencakup layar OLED dan dukungan VR untuk PlayStation 5, tetapi dukungan game eksklusif dari PlayStation relatif sedikit.
Dukungan PC melalui adaptor pada 2024 memperluas kegunaan headset ini. Meski demikian, langkah tersebut belum cukup menghilangkan keraguan soal komitmen jangka panjang Sony terhadap platform PSVR.
Transaksi paten ini menunjukkan perpindahan aset teknologi XR milik grup Sony. Namun, belum ada bukti bahwa paten khusus PlayStation VR telah dijual atau proyek headset VR berikutnya resmi dibatalkan.
Sony dan Meta sama-sama belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan penjualan maupun nilai transaksi. Ketiadaan konfirmasi ini membuat spekulasi soal nasib PSVR bergantung pada penelusuran dokumen paten, bukan pernyataan korporat.
Bagi pengguna PSVR2 di Indonesia, sinyal yang perlu dicermati adalah arah dukungan konten ke depan. Selama Sony Interactive Entertainment belum mengumumkan perubahan strategi, headset yang sudah beredar tetap berjalan di atas ekosistem PlayStation 5. Perkembangan berikutnya akan terlihat dari apakah SIE merilis paten baru di ranah XR atau justru membiarkan portofolionya menipis sepeninggal transfer ke Meta.