SEMARANG — Nyeri lutut, jalan pincang, sampai bentuk lutut yang kian bengkok sering dianggap wajar saat usia menua. Padahal keluhan itu bisa jadi tanda kerusakan sendi yang perlu diperiksa.
Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatologi RSI Sultan Agung, dr. Arief Indra Perdana Prasetya, M.H., Sp.OT, AIFO-K, FISQua, mengatakan kerusakan sendi punya beberapa tingkatan. Tidak semua pasien membutuhkan tindakan operasi.
“Dalam bahasa medis disebut osteoartritis dan dalam bahasa awam disebut pengapuran,” kata Arief yang juga menjabat Direktur Pelayanan, Penunjang, dan IT RSI Sultan Agung.
Osteoartritis pada lutut maupun panggul bisa muncul akibat proses degeneratif atau penuaan. Aktivitas berbeban berat, jenis pekerjaan tertentu, dan berat badan berlebih juga mempercepat kerusakan sendi.
Pada derajat satu, pasien masih bisa ditangani dengan obat-obatan dan fisioterapi. Memasuki derajat dua dan tiga, dokter dapat mempertimbangkan tindakan tambahan, termasuk injeksi pada sendi sesuai indikasi.
Derajat empat jadi fase paling berat. Ketika kerusakan sendi sudah parah, operasi penggantian sendi menjadi pilihan untuk membantu mengembalikan fungsi gerak pasien.
Usia lanjut kerap jadi alasan pasien dan keluarga ragu memutuskan operasi. Arief menegaskan kondisi itu bukan penghalang bagi lansia untuk menjalani penggantian sendi.
Pasien lanjut usia justru termasuk kelompok yang cukup banyak menjalani tindakan tersebut. Sebab, kerusakan sendi mereka umumnya akibat proses degeneratif.
Untuk memastikan tindakan aman, pasien melewati persiapan dan pemeriksaan menyeluruh. Tim dokter melibatkan dokter spesialis terkait, termasuk dokter penyakit dalam dan dokter anestesi, sesuai kondisi pasien.
“Jangan khawatir karena pasien-pasien yang sudah kita tangani adalah pasien usia lanjut. Tentunya kita menyiapkan sebaik mungkin, seoptimal mungkin,” ungkapnya kepada Jatengnews.id, Kamis (10/8/2026).
Perkembangan teknik dan prosedur operasi membuat masa pemulihan pasien tidak lagi identik dengan berbaring lama. Pasien diarahkan melakukan mobilisasi dini sesuai kondisi.
Latihan fisioterapi hingga latihan berjalan bisa dilakukan sedini mungkin setelah operasi. Semua tetap dengan pendampingan tenaga medis.
Arief juga meluruskan anggapan bahwa operasi penggantian sendi sama dengan pemasangan pen yang harus dilepas kembali. Pada kasus kerusakan degeneratif, bagian sendi yang rusak diganti implan.
Karena itu, tidak ada agenda rutin untuk melepasnya seperti yang mungkin terjadi pada tindakan pemasangan pen dalam kasus cedera tertentu.
Dari sisi pembiayaan, RSI Sultan Agung memberi akses layanan melalui BPJS Kesehatan untuk operasi penggantian sendi lutut. Pasien tanpa BPJS maupun asuransi bisa memilih pembiayaan dengan biaya yang diklaim ekonomis dan kompetitif.
RSI Sultan Agung menyediakan layanan orthopedi untuk berbagai kondisi, mulai dari cedera olahraga (sport injury) hingga penyakit degeneratif. Layanan itu mencakup operasi penggantian sendi lutut dan panggul.
Masyarakat disarankan tidak menunggu keluhan memburuk. Jika orang tua atau anggota keluarga lansia mulai nyeri lutut atau panggul, lutut makin bengkok, jalan pincang, atau kesulitan beraktivitas, pemeriksaan bisa dilakukan untuk mengetahui kondisi sendi secara lebih jelas.