Kopi bukan komoditas baru bagi warga Slukatan. Tanaman ini telah lama menjadi bagian dari denyut ekonomi desa yang berada di kaki Gunung Bismo.
Kepala Desa Slukatan, Muhammad Saeku, menuturkan kebangkitan kopi di wilayahnya pernah tercatat pada 1992. Pergerakan usaha itu kemudian melambat karena banyak lahan beralih fungsi menjadi tanaman hortikultura.
“Kemudian mengalami penurunan karena banyak faktor, salah satunya faktor ekonomi. Secara penghasilan harian, kopi belum masuk,” katanya.
Menghadapi persoalan itu, pemerintah desa mengambil langkah regenerasi. Bibit kopi gratis disalurkan secara masif melalui kerja sama dengan dinas terkait dan kalangan akademisi.
Kini luas lahan kopi tumpang sari di Slukatan mencapai sekitar 20 hektare. Dari hamparan itu, produksi kopi per musim diperkirakan tembus 7 ton.
Saeku berharap konsistensi pengelolaan lahan berdampak nyata pada kesejahteraan warga. Keberlanjutan budi daya menjadi kunci agar kopi tidak kembali surut seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pengembangan kopi tidak berhenti pada perluasan lahan. Penggagas Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, menyebut komoditas ini mulai dipadukan dengan sektor pariwisata desa melalui paket wisata edukasi berbasis kerakyatan.
Paket Mangku Alam dan konsep live-in disiapkan untuk menarik wisatawan sekaligus memperkenalkan proses budi daya kopi secara langsung. Rantai produksi hingga pemasaran produk lokal seperti Sukron Coffee Java Arabica Slukatan dan Kopi Lereng Bismo juga tengah dibenahi.
“Kita sedang mempersiapkan untuk bisa membuat lahan kopi. Nanti lahan ini juga semoga bisa mendukung pasokan ceri ke teman-teman penggiat kopi,” ujar Hafid.
Sarasehan yang digelar Senin lalu menjadi penegasan arah baru pengembangan desa: kopi kembali dirawat serius dari hulu ke hilir, bersamaan dengan potensi wisata yang mengelilinginya.