KARANGANYAR — Bantaran sungai yang sebelumnya ditumbuhi semak liar dan menjadi tempat munculnya ular kini mulai berubah menjadi kawasan hijau yang tertata. Perubahan itu dihasilkan dari kerja rutin Relawan Jogo Kali Merawat Bumi yang setiap Minggu pagi turun membersihkan sekaligus menanam pohon di sepanjang aliran sungai.
Program yang diinisiasi Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, itu dinilai para relawan sebagai gerakan nyata menjaga lingkungan, bukan sekadar agenda seremonial. Ikhsan, Relawan Jogo Kali Merawat Bumi Karangpandan, menuturkan bahwa kelompoknya memiliki kegiatan tetap setiap pekan untuk memastikan tanaman yang telah ditanam tumbuh baik.
"Kami setiap Minggu pagi kumpul untuk menambah tanaman yang ada, memberi pupuk, merawat, dan membersihkan rumput. Karena sebelumnya bantaran ini tidak terawat, jadi kami bersihkan," kata Ikhsan kepada Lingkar.news.
Setiap pekan, sekitar 10 hingga 15 tanaman baru ditambahkan di kawasan bantaran sungai. Tanaman yang sudah ada dipastikan dirawat dengan pemberian pupuk dan pembersihan rumput di sekitarnya.
Ikhsan menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kesediaan relawan merawat tanaman hingga tumbuh besar. "Yang paling penting bukan hanya menanam, tetapi bagaimana tanaman itu dirawat supaya bisa tumbuh. Kami jadi punya kegiatan rutin setiap minggu untuk merawat lingkungan," ujarnya.
Tanaman yang telah ditanam diberi tanda berupa kertas bertuliskan "Jogo Kali Karangpandan". Penanda itu menjadi pengingat bagi warga, termasuk petani yang beraktivitas di sekitar lokasi, agar tanaman tidak ditebang.
Keberadaan pohon di sekitar sungai memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air untuk masa mendatang. Sebab, akar pohon membantu menyerap dan menyimpan air, sehingga kawasan resapan tetap berfungsi optimal.
Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menekankan pentingnya keberadaan relawan untuk menjaga keberlanjutan gerakan ini. Menurutnya, kegiatan penanaman pohon tidak boleh berhenti sebagai acara seremonial belaka. Setelah penanaman, tanaman harus dirawat secara rutin dan konsisten agar benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan.
"Sejak mendeklarasikan jadi relawan, tugasnya bagaimana bisa terus berjalan. Jangan hanya ketika saya datang kemudian kumpul, setelah saya pergi dan kegiatan bubar, selesai," kata Sumanto.
Ia menyayangkan sejumlah kegiatan lingkungan yang selama ini hanya berlangsung sesaat, tanpa ada pihak yang melanjutkan perawatan setelah acara selesai. Karena itu, pembentukan relawan menjadi kunci agar pohon yang ditanam tidak sekadar menjadi simbol, tetapi dirawat hingga tumbuh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sumanto berharap para relawan dapat menjadi penggerak di tengah masyarakat untuk menjaga lingkungan sungai. "Tak hanya melakukan penanaman pohon, saya berharap para relawan memastikan tanaman dirawat, lingkungan sungai dijaga, serta potensi yang dihasilkan dari gerakan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Karanganyar, Sri Harjono, mengingatkan bahwa menanam pohon penyimpan air seperti preh, bulu, dan beringin berbeda dengan menanam tanaman buah seperti mangga atau durian.
Tanaman buah bisa dipetik hasilnya dalam beberapa tahun. Sementara pohon penyimpan air membutuhkan waktu lebih panjang hingga benar-benar memberikan manfaat bagi lingkungan.
"Tugas para relawan ini cukup berat. Sebab menanam sekarang tapi belum tahu apa dan kapan bisa terlihat hasilnya. Ini pekerjaan mengabdi ke alam yang benar-benar buat kepentingan ke depan," ucap Sri Harjono. "Biar anak cucu yang nanti menikmati," imbuhnya.