IAINU Kebumen Gelar Konferensi Internasional Bahas Etika AI dan Pendidikan Islam di Era Digital, Hadirkan Akademisi dari Malaysia-Pakistan

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:15:01 WIB
Akademisi dari Malaysia, Pakistan, dan Indonesia menghadiri sesi pembukaan IAINU International Conference 2026 di Mexolie Hotel Kebumen, Rabu (26/8/2026).

KEBUMENIAINU Kebumen menggelar konferensi internasional tahunannya dengan tajuk IAINU International Conference (IIC) 2026 di Mexolie Hotel Kebumen, Rabu (26/8/2026). Forum ini menghadirkan pembicara dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hingga perwakilan Government of Balochistan, Pakistan.

Konferensi yang mempertemukan akademisi dan tokoh dari berbagai negara ini dirancang untuk merespons persoalan aktual: bagaimana manusia menjaga nilai agama dan moral di tengah lompatan teknologi yang semakin masif.

AI Tidak Selalu Benar, Manusia Wajib Kritis

Pada sesi pertama yang dipandu Dr. Muzzayyin, akademisi Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, Dr. Siti Marpuah, M.Ed., mengingatkan bahwa informasi yang dihasilkan kecerdasan buatan tidak bisa langsung diterima sebagai kebenaran.

Ia menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi di tengah arus teknologi. Manusia perlu menggunakan akal dan berpikir kritis, termasuk dengan mempertimbangkan perspektif Islam dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.

Lima Krisis Akibat Kemajuan Teknologi yang Tak Terkendali

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Abdul Mustaqim, M.A., memaparkan sejumlah persoalan yang mengemuka seiring perkembangan sains dan teknologi. Ia menyebut setidaknya ada lima krisis yang perlu menjadi perhatian bersama.

Lima krisis itu adalah krisis akhlak, lingkungan, pengetahuan, sosial dan keamanan, serta krisis identitas. Menurutnya, kecanggihan teknologi tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran kemajuan, karena dampaknya terhadap kehidupan manusia dan lingkungan juga harus menjadi pertimbangan utama.

Perspektif internasional turut hadir melalui Wazir Ali, M.A., M.Ed., M.Phil. dari Government of Balochistan, Pakistan. Ia memberikan gambaran tantangan yang dihadapi masyarakat di era modern dari kacamata negara berkembang.

Pendidikan Kunci Membentuk Manusia Bijak Bermedia

Memasuki sesi kedua yang dipandu Nadia Raifah Nawa K, M.Pd., Director of Graduate Program IAINU Kebumen Dr. Aini Rinawati, M.Pd., menekankan bahwa seluruh elemen pendidikan harus saling menguatkan. Pendidikan tidak hanya soal kemampuan berpikir, tetapi juga olah hati, olah rasa atau kepekaan, serta olahraga.

Keseimbangan ini diyakini mampu membentuk pribadi bermoral yang siap menghadapi perkembangan zaman secara utuh. Sementara itu, Dr. Dawanuddin, M.Ag. memaparkan perkembangan teknologi dari perspektif tujuan syariat Islam.

Ia menjelaskan bahwa inovasi teknologi perlu tetap berpijak pada tujuan utama syariat, yakni menjaga keturunan, jiwa, akal, dan agama. Teknologi boleh dikembangkan selama memberi manfaat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang menjaga kelangsungan hidup manusia.

Konferensi Tegaskan Ilmu dan Spiritualitas Harus Seimbang

Dari seluruh pemaparan, para narasumber sepakat bahwa peradaban tidak hanya diukur dari kemajuan teknologi. Perkembangan harus diiringi kebijaksanaan dan diarahkan untuk kemaslahatan bersama.

Ilmu pengetahuan dan teknologi dinilai perlu berjalan seimbang dengan nilai Islam dan spiritualitas. Pendidikan menjadi garda terdepan dalam membentuk manusia yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab.

IIC 2026 diharapkan menjadi ruang bertukar gagasan antara akademisi, praktisi, dan peserta untuk menghadapi tantangan zaman. Perkembangan teknologi ke depan diharapkan tidak hanya menghasilkan kemajuan, tetapi juga menciptakan kehidupan yang lebih berkeadilan, bermakna, dan berkelanjutan. (K24/*)

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: kebumen24.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top