SEMARANG — Ribuan calon siswa yang gagal mendapatkan kursi di sekolah negeri kini punya pilihan lain. Program Sekolah Kemitraan yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menerima 3.663 siswa dari keluarga desil 1 hingga 4, terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK.
Program ini menyediakan total 5.004 kursi di 139 sekolah swasta, yang terdiri dari 56 SMA dan 83 SMK. Para siswa yang memenuhi kriteria tidak dibebani biaya sekolah alias gratis.
Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Tengah Sunarto mengungkapkan, keterbatasan daya tampung bukan satu-satunya persoalan. Banyak calon siswa sebenarnya punya nilai rapor cukup, tetapi kalah bersaing karena jarak tempat tinggal ke sekolah negeri terlalu jauh.
"Mereka punya tempat tinggal jauh dari sekolah negeri sehingga kalau mengikuti SPMB ini mereka kalah jarak, kemudian dengan rapot mungkin nilainya juga kurang kompetitif dan sebagainya. Maka anak-anak ini kita layani melalui program sekolah kemitraan," ujar Sunarto, Rabu (19/8/2026).
Melalui skema ini, siswa tidak hanya dibebaskan dari biaya pendidikan. Mereka juga mendapatkan seragam sekolah secara gratis dari pemerintah provinsi.
Sementara itu, sekolah swasta yang menjadi mitra tidak rugi. Setiap siswa yang diterima melalui program ini membuat sekolah menerima BOS plus hibah afirmasi sebesar Rp2 juta per siswa per tahun dari APBD Provinsi Jawa Tengah.
"Mereka dibebaskan dari pembebanan biaya, dapat seragam dan sekolah menerima BOS plus hibah afirmasi Rp2 juta per siswa per tahun dari APBD Provinsi," jelas Sunarto.
Tidak semua sekolah swasta bisa ikut serta. Pemprov Jawa Tengah menetapkan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari akreditasi minimal B, ketersediaan tenaga pendidik, hingga ruang kelas yang memadai.
Pendampingan siswa juga menjadi perhatian serius. Sekolah mitra diminta memastikan para siswa tersebut tidak berhenti di tengah jalan dan mampu menyelesaikan pendidikan hingga lulus.
"Kami minta anak ini dijaga, didampingi, sehingga bisa menyelesaikan sekolah sampai lulus," tegasnya.
Hingga proses penerimaan berlangsung, belum ada laporan siswa peserta Program Sekolah Kemitraan yang keluar atau berhenti di tengah proses pendidikan. Hal ini menunjukkan program berjalan sesuai harapan.
Dengan adanya skema ini, siswa yang tidak memperoleh kursi di sekolah negeri karena faktor ekonomi maupun keterbatasan akses lokasi tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan melalui sekolah swasta yang menjadi mitra pemerintah.