SEMARANG — Deretan nisan yang tertata rapi di Ereveld Kalibanteng, Kota Semarang, menjadi saksi bisu peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II Asia pada Sabtu (15/8/2026). Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, perwakilan Kerajaan Belanda, serta keluarga korban perang turut hadir dalam seremoni yang berlangsung khidmat tersebut.
Peringatan tahun ini mengusung tema "Memories That Endure, Values That Unite" atau Kenangan yang Bertahan, Nilai yang Menyatukan. Ribuan makam di kompleks pemakaman kehormatan itu menjadi pengingat bahwa setiap nama yang terukir di batu nisan menyimpan kisah kehilangan yang dampaknya terasa lintas generasi.
Allan Akbar, perwakilan Yayasan Makam Kehormatan Belanda atau Oorlogsgraven-stichting (OGS) Indonesia, menyebut lebih dari 3.000 korban perang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng. Menurutnya, setiap makam menyimpan kisah kehilangan yang tidak hanya dirasakan satu generasi.
"Tema peringatan hari ini adalah Memories That Endure, Values That Unite. Kita merefleksikan masa lalu, menjaga ceritanya, dan membangun jembatan menuju masa depan yang damai dan aman bagi semua," ujar Allan dalam sambutannya.
Suasana semakin menyentuh ketika Henry Sandee, keluarga korban perang, membagikan kisah kakeknya, Thomas, yang meninggal di Kamp Bangkong Semarang pada April 1945. Henry mengaku tidak pernah bertemu sang kakek karena Thomas meninggal sebelum ia lahir.
Saat mengunjungi bekas Kamp Bangkong yang kini telah menjadi sekolah, Henry mengaku sulit membayangkan lokasi tersebut pernah menjadi tempat penahanan sekitar 1.400 orang pada masa perang. "Sulit membayangkan bahwa kurang lebih 81 tahun yang lalu itu menjadi penjara dan di sana ditempatkan 1.400 orang," katanya.
Commander Patrick Stähli, perwakilan Kantor Atase Pertahanan Kerajaan Belanda, menegaskan bahwa kisah korban perang menunjukkan besarnya penderitaan manusia di balik catatan sejarah. Ia mengingatkan bahwa perdamaian adalah sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari.
"Perdamaian tidak bisa dianggap remeh. Perdamaian tidak datang dengan sendirinya. Kita harus berjuang demi perdamaian setiap hari," ujarnya.
Stähli mengajak masyarakat menjaga perdamaian melalui pendidikan, komunikasi, dan diplomasi, sekaligus belajar menerima perbedaan. "Mari kita terima perbedaan. Kita sepakat untuk tidak sependapat. Mari kita cari nilai-nilai yang mempersatukan. Mari kita berjuang demi perdamaian," katanya.
Rangkaian acara juga diisi pembacaan puisi oleh Nadin Himaya dan pertunjukan gamelan dari Sanggar Monod Laras yang menambah suasana reflektif di area makam. Puncak acara ditandai dengan silent moment selama dua menit, di mana seluruh peserta berdiri dan mengheningkan cipta untuk memberikan penghormatan kepada para korban Perang Dunia II.
Dalam keheningan tersebut, para peserta diajak kembali mengingat jutaan manusia yang kehilangan nyawa, keluarga, rumah, serta masa depan akibat perang. Peringatan kemudian ditutup dengan prosesi menaruh bunga di makam korban Perang Dunia II Asia.