JAWA TENGAH — BMKG mencatat gempa dahsyat itu terjadi pada pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA. Episenter gempa berada di koordinat 8,33 derajat Lintang Selatan dan 121,32 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut sekitar 38 kilometer timur laut Mbay–Nagekeo, NTT.
Dengan kedalaman hiposenter hanya 10 kilometer, gempa ini masuk kategori dangkal. Kombinasi magnitudo besar dan kedalaman dangkal membuat potensi dampak ikutan seperti tsunami menjadi perhatian utama otoritas kebencanaan.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan pihaknya telah menerbitkan peringatan dini dengan kode PD Tsunami-1. Status ini menandakan adanya potensi gelombang tsunami yang dapat mencapai daratan.
"Masyarakat di wilayah pesisir diimbau untuk tetap tenang namun waspada. Jauhi pantai dan tepian sungai hingga status peringatan dicabut," ujar Daryono dalam keterangan resminya, Sabtu (15/8).
Peringatan ini berlaku untuk seluruh wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan sumber gempa di Laut Flores. Pemerintah daerah setempat diminta aktif mengarahkan warga untuk menjauhi area rawan.
BMKG menjelaskan, lokasi sumber gempa yang berada di laut berpotensi memicu perubahan muka air laut. Jika sumber gempa menyebabkan pergeseran dasar laut secara signifikan, gelombang tsunami berpeluang terbentuk.
Mekanisme ini yang menjadi dasar penetapan status waspada. BMKG juga memantau aktivitas susulan yang bisa memperparah kondisi di lapangan.
Selain ancaman tsunami, warga juga diingatkan akan bahaya gempa susulan yang umumnya terjadi setelah gempa utama berkekuatan besar. Getaran susulan berpotensi merusak bangunan yang sudah retak oleh guncangan pertama.
BMKG merekomendasikan agar warga yang berada di wilayah pesisir segera bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Evakuasi mandiri dinilai lebih efektif mengingat waktu tiba gelombang bisa sangat singkat.
Masyarakat diminta tidak menunggu instruksi resmi jika merasakan guncangan kuat dan melihat air laut surut secara tiba-tiba. Kedua tanda alam tersebut merupakan indikator awal datangnya tsunami.
Pihak BMKG berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan pemerintah daerah untuk memastikan kesiapan jalur evakuasi. Informasi terbaru akan terus diperbarui melalui kanal resmi BMKG.
Wilayah NTT sendiri merupakan kawasan rawan gempa karena berada di zona tumbukan lempeng aktif. Sepanjang 2026, BMKG telah mencatat puluhan kali aktivitas seismik di wilayah Laut Flores dengan magnitudo bervariasi.