TMMD Sengkuyung III di Sawah Besar Rampung, Pemkot Semarang Targetkan Perbaikan 2.500 RTLH dan Koneksikan Kolam Retensi Atasi Banjir

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 22:24:31 WIB
Perbaikan 10 rumah tidak layak huni di Sawah Besar menjadi bagian dari target rehabilitasi 2.500 unit RTLH oleh Pemkot Semarang sepanjang 2026.

SEMARANG — Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin menutup rangkaian TMMD Sengkuyung Tahap III di Ruang Lokakrida Balaikota Semarang, Kamis (13/8/2026). Program bertema "TMMD Satukan Langkah Membangun Negeri dari Desa" itu menjadi simpul kolaborasi antara Kodim 0733/Kota Semarang, pemerintah daerah, dan warga Sawah Besar.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut TMMD menyentuh kebutuhan dasar warga secara langsung, bukan sekadar pembangunan fisik seremonial. "TMMD memiliki makna yang dekat dengan kehidupan warga. Pembangunan yang dilakukan berfokus pada kebutuhan mendasar yang dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga," ujarnya.

Rehabilitasi 10 RTLH dan Target 2.500 Unit pada 2026

Kepala Staf Kodim 0733/Kota Semarang Yohanes Heru Wibowo merinci sejumlah hasil fisik yang direalisasikan. Di kawasan Dempel Barat, peninggian jalan dan talud sepanjang 200 meter rampung dikerjakan, ditambah penyiapan tandon air bersih untuk kebutuhan warga.

Pada sektor hunian, sepuluh unit RTLH berhasil direhabilitasi dengan dukungan Baznas Kota Semarang. Agustina menegaskan angka tersebut bagian dari target besar Pemkot Semarang yang mencanangkan perbaikan sekitar 2.500 unit RTLH sepanjang 2026.

Pendanaannya berasal dari APBD, APBN, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan. "Rumah merupakan tempat tumbuh kembang anak-anak dan ruang beristirahat orang tua. Perbaikan sepuluh rumah di Sawah Besar ini memiliki arti besar bagi masa depan keluarga yang menghuninya," kata Agustina.

Mengapa Penanganan Banjir Gayamsari Butuh Sistem Terpadu?

Di luar pembangunan fisik, Pemkot Semarang menjadikan TMMD sebagai momentum menguatkan strategi pengendalian banjir kawasan timur. Kelurahan Sawah Besar dan Kaligawe berada dalam sistem pengendalian Sungai Tenggang yang selama ini menjadi langganan genangan.

Salah satu infrastruktur kunci adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe seluas 14,3 hektare dengan kapasitas tampung sekitar 228.700 meter kubik. Agustina menekankan keberadaan saluran drainase, pompa, dan kolam retensi harus diimbangi pemeliharaan berkelanjutan agar optimal saat debit air meningkat.

Pemkot Semarang tengah mengkaji pemanfaatan aset untuk membangun jaringan kolam retensi yang saling terkoneksi. Konsep ini dinilai lebih efektif dibanding penanganan parsial yang selama ini berjalan.

Gotong Royong Jadi Kunci Keberlanjutan Infrastruktur

Agustina mengingatkan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan dari hulu ke hilir dengan perencanaan matang dan keterlibatan masyarakat. Kesadaran warga dalam menjaga lingkungan serta tidak membuang sampah sembarangan menjadi penentu keberhasilan sistem ini.

Program TMMD juga diisi kegiatan nonfisik seperti penyuluhan kesehatan keluarga, pembinaan remaja, pelatihan keterampilan, dan pelayanan administrasi kependudukan. "Gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga terbukti mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Saya titip agar jalan, talud, tandon air, dan rumah yang sudah diperbaiki ini kita rawat bersama," pungkasnya.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: jatengnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top