PEMALANG — Sebelum papan petunjuk ini terpasang, pengunjung yang hendak menuju Balai Desa Moga atau kawasan Biopori RTH kerap kebingungan. Tidak adanya rambu penunjuk arah membuat lokasi yang seharusnya mudah dijangkau justru sulit ditemukan, terutama bagi mereka yang berasal dari luar desa.
Melalui program pengidentifikasian rambu-rambu ini, mahasiswa KKN UMUS Brebes berupaya menjawab persoalan tersebut. Papan petunjuk yang dipasang di sejumlah titik penting di Desa Moga diharapkan menjadi solusi langsung bagi masyarakat dan pendatang.
Keberadaan papan petunjuk arah tidak hanya berhenti pada fungsi informatif. Humas KKN UMUS Kecamatan Moga 2026, Dodi Jatmiko, menyebut program ini dirancang untuk memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi desa.
"Semoga ke depan bisa dikembangkan lagi dengan penambahan papan petunjuk di lokasi-lokasi penting lainnya di Desa Moga," ujar Dodi.
Lokasi Biopori RTH yang menjadi salah satu sasaran penunjuk arah merupakan kawasan konservasi yang tengah dikembangkan. Dengan adanya rambu yang jelas, kawasan ini diharapkan semakin dikenal dan dapat menjadi sarana edukasi lingkungan bagi warga maupun pengunjung.
Wakil Ketua KKN UMUS Kecamatan Moga 2026, Cahyono, menilai program ini sebagai langkah nyata dalam meningkatkan aksesibilitas layanan publik di tingkat desa. Menurutnya, papan petunjuk yang terpasang memperkuat identitas kawasan konservasi yang sedang dibangun.
"Harapannya, keberadaan papan petunjuk ini bisa memberikan manfaat nyata sekaligus mendukung pengembangan kawasan Biopori RTH sebagai bagian dari edukasi lingkungan," kata Cahyo.
Program kerja KKN ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam pembangunan desa. Dengan akses yang lebih mudah, pelayanan publik di Balai Desa Moga diharapkan berjalan lebih efektif, sementara kawasan Biopori RTH dapat berkembang sebagai destinasi edukasi lingkungan di Pemalang.