SEMARANG — Perbaikan 13 rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, memasuki tahap akhir. Program TMMD Reguler ke-129 yang digarap Kodim 0714/Salatiga bersama warga ini menargetkan seluruh pekerjaan selesai pada 10 Agustus 2026, sebelum penutupan resmi kegiatan.
Salah satu sasaran utama adalah rumah milik Fajar Arifin (35) di Dusun Gombyong. Rumah berdinding kayu yang dihuninya bersama kakak dan seorang keponakan itu sebelumnya dalam kondisi memprihatinkan—sebagian atap ambrol diterjang hujan angin beberapa waktu lalu.
Fajar mengaku selama bertahun-tahun tidak pernah berani bermimpi memperbaiki rumah. Penghasilannya yang tidak menentu setiap hari hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga, apalagi ia juga harus menanggung anggota keluarga dengan kebutuhan khusus.
“Jangankan berpikir bisa memperbaiki rumah, untuk mencukupi kebutuhan harian saja kadang ada dan kadang tidak,” ujarnya, Senin 3 Agustus 2026.
Kondisi itu dibenarkan Kepala Dusun Gombyong, Muhammad Umar Syafi'i. Menurutnya, sebelum diperbaiki, banyak genting rumah Fajar yang bocor saat hujan. Kayu penyangga mulai lapuk, dinding papan rusak di sejumlah bagian, dan lantainya masih tanah.
“Yang memprihatinkan beberapa waktu lalu, saat hujan angin ada bagian rumah yang ambrol,” jelas Umar.
Babinsa Desa Cukil, Serka Kundori, menjelaskan dari 13 RTLH yang menjadi sasaran, tidak semua rumah dikerjakan dengan metode yang sama. Rumah Fajar termasuk kategori berat sehingga harus dibongkar total dan dibangun kembali dari nol.
“Dari ke-13 RTLH sasaran, ada yang dibongkar total dan dibangun kembali. Seperti rumah Fajar Arifin di Dusun Gombyong. Selain itu ada yang direnovasi sebagian,” jelasnya.
Setiap rumah dikerjakan oleh sekitar 10 orang yang terdiri dari anggota TNI, warga sekitar, dan keluarga pemilik rumah. Semangat gotong royong ini menjadi penentu agar target penyelesaian tepat waktu.
Komandan Kodim 0714/Salatiga, Letkol Kav Fajar Hapsari Nugroho, menegaskan TMMD tidak hanya bicara soal pembangunan fisik. Program ini juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan antara TNI dan masyarakat di Desa Cukil.
“Semangat gotong royong inilah yang menjadi kekuatan TMMD,” tandas dandim.
Sebelum ditetapkan sebagai penerima manfaat, 13 rumah tersebut telah melalui proses pendataan dan survei bersama pemerintah desa. Hal ini dilakukan agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan dirasakan langsung oleh warga yang paling membutuhkan.