BANTUL — Nama @black.sheep8208 tiba-tiba melambung setelah deretan videonya mengolah kimpul menjadi hidangan populer viral di media sosial. Melalui format video yang sederhana, kreator konten asal Bantul ini memperkenalkan kimpul sebagai pengganti bahan utama berbagai makanan kekinian, mulai dari kimbap, arancini, hingga cikuro.
Video-videonya yang menampilkan menu seperti mashed kimpul, kimpuljeon, dan seblak genjer kimpul telah ditonton lebih dari dua juta kali. Salah satu daya tarik utamanya adalah narasi khas yang selalu diawali dengan makanan populer, lalu diikuti kalimat "tapi karena saya tidak punya…" sebelum menampilkan kimpul sebagai bahan pengganti.
Di balik kesuksesannya, ide mengangkat pangan lokal ini berakar dari kisah personal. Kreator yang identitas aslinya belum banyak terungkap ini mengolah kimpul, mbote, kentang klesi, jagung, hingga uwi yang ditanam di lahan peninggalan sang ayah di Bantul.
Ia resah melihat semakin sedikit generasi muda yang tertarik membudidayakan maupun mengonsumsi pangan lokal. Kondisi serupa juga dialami para penjual makanan tradisional seperti tempe benguk dan ongol-ongol yang sebagian besar berasal dari generasi tua. Berangkat dari keresahan itu, ia memilih pendekatan yang lebih dekat dengan anak muda—mengemas kimpul menjadi menu yang tampil modern dan mudah diterima, alih-alih menyajikannya sebagai makanan tradisional apa adanya.
Kreativitas @black.sheep8208 tak berhenti pada kimpul. Ia juga mengangkat pangan lokal lain dengan cara serupa. Growol, misalnya, disulap menjadi growolbokki ala tteokbokki Korea, sementara uwi diolah menjadi uwi schotel dan cheesy uwi pancake. Mi lethek juga tampil dengan penyajian modern menyerupai pasta creamy.
Berkat konsistensinya, akun @black.sheep8208 kini telah memiliki lebih dari 71 ribu pengikut di TikTok dan jumlahnya terus bertambah seiring viralnya berbagai konten yang ia unggah.
Konsistensinya mengangkat kimpul dan berbagai pangan lokal membuat banyak warganet menjulukinya "Duta Ketahanan Pangan". Julukan tersebut muncul karena kontennya dinilai mampu memperkenalkan kembali bahan pangan lokal tanpa terkesan menggurui. Pendekatan yang ringan, menghibur, sekaligus edukatif ini berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap kimpul yang sebelumnya identik sebagai makanan kampung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa promosi diversifikasi pangan tidak selalu harus dilakukan melalui kampanye formal. Kreativitas di media sosial ternyata mampu mengubah persepsi masyarakat terhadap pangan lokal.
Viralnya kimpul melalui konten @black.sheep8208 menjadi bukti bahwa bahan pangan lokal masih memiliki potensi besar apabila dikemas secara kreatif. Tak hanya menciptakan tren kuliner baru, konten-konten tersebut juga membuka ruang diskusi mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan pangan lokal serta mendorong regenerasi petani di Indonesia.
Kini, publik menantikan apakah viralnya kimpul hanya menjadi tren sesaat di media sosial atau benar-benar mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap pangan lokal sekaligus memberikan dampak positif bagi para petani dan pelaku usaha pangan tradisional di berbagai daerah.