Maskot 'Sani' Karya Mahasiswa ISI Surakarta Jadi Identitas Visual Baru Museum & Galeri SBY*ANI di Pacitan

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Sabtu, 25 Juli 2026 | 13:27:02 WIB

PACITAN — Pada Grand Final Lomba Bercerita "Untuk Bumi Kita" pada 24 Mei 2026, maskot bernama 'Sani' resmi diperkenalkan sebagai identitas visual digital Museum & Galeri SBY*ANI di Pacitan. Maskot ini dirancang oleh dua mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) ISI Surakarta, Tunjung Norma Sidhi Hastuty dan Firah Aniq Imtinansyah, melalui program magang selama empat bulan. Kehadiran Sani diharapkan memperkuat citra museum di ruang digital sekaligus menjadi jembatan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Karakter Elang Bersarung Flamboyan, Simbol Pacitan

Maskot Sani mengusung karakter burung elang yang dipadukan dengan atribut khas Kabupaten Pacitan. Ia mengenakan baju blarang dan kain lilit bermotif flamboyan berwarna biru. Nama "Sani" sendiri merupakan gabungan dari nama dua tokoh pendiri museum, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono.

Dalam perkenalan perdananya, maskot itu tidak hanya tampil dalam bentuk digital, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk fisik sebagai elemen pendukung estetika panggung acara. Hal ini menunjukkan bahwa identitas visual bisa hadir di dua dimensi sekaligus.

Empat Bulan Meriset hingga Digitalisasi

Proses perancangan maskot dilakukan melalui sejumlah tahapan. Tunjung dan Firah memulainya dengan riset, wawancara, penyusunan konsep, lalu pengajuan kepada Direktur Museum. Setelah disetujui, mereka melakukan digitalisasi menggunakan aplikasi Adobe Illustrator.

Selama magang yang berlangsung 13 Mei hingga 13 Agustus 2026, keduanya juga mengelola akun Instagram @sahabatmuseum_, media sosial resmi museum. Mereka didampingi mentor Ristian Winda A. dan Ratih Nur Imamah dari FSRD ISI Surakarta.

“Tantangan Mengemas Narasi Museum Lebih Ceria”

Tunjung mengaku proses tersebut menjadi pengalaman yang menantang. “Saya mendapatkan tantangan dalam mengemas narasi museum menjadi bentuk visual dengan nuansa yang lebih ceria dan informal,” ujarnya, seperti dikutip dalam rilis ke Joglosemarnews.

Program Magang Berbasis Dampak

Keterlibatan Tunjung dan Firah merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam) skema magang yang diselenggarakan FSRD ISI Surakarta. Dosen pembimbing, Anung Rachman, mengatakan program ini membuktikan bahwa ilmu Desain Komunikasi Visual tidak hanya berorientasi pada aspek estetika, tetapi juga mampu menghadirkan solusi strategis dalam membangun identitas visual sebuah institusi.

Melalui program tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman profesional secara langsung. Mereka memahami pentingnya peran desain komunikasi visual dalam mendukung strategi komunikasi, edukasi budaya, serta penguatan citra Museum & Galeri SBY*ANI di tengah masyarakat.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top