JAWA TENGAH — Kenaikan harga emas Antam hari ini sejalan dengan pergerakan emas global. Mengutip data CNBC, harga emas di pasar spot melesat 2,1% ke US$ 4.089,49 per ounce pada Rabu (1/7/2026). Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga sempat jatuh ke level terendah sejak November 2025.
Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan reli emas dipicu oleh data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih rendah dari perkiraan. "Data lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicu awal," ujarnya.
Sentimen positif lainnya datang dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh. Dalam pernyataannya, Warsh menilai risiko inflasi mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir. Komentar ini langsung mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik.
"Komentar Ketua The Fed bahwa inflasi mulai menurun membuat imbal hasil obligasi turun dan mendorong pasar emas yang sebelumnya lesu kembali bergairah," tambah Wong. Ia memproyeksikan harga emas berpotensi membentuk dasar penguatan jangka pendek, kecuali laporan non-farm payrolls (NFP) yang dirilis hari ini menunjukkan hasil jauh lebih kuat dari ekspektasi.
Berdasarkan situs resmi Logam Mulia, berikut harga emas Antam untuk berbagai pecahan pada Kamis (2/7/2026):
Sebagai catatan, harga buyback atau harga yang diterima saat menjual emas kembali ke Antam kini mencapai Rp 2.345.000 per gram. Angka ini masih jauh dari rekor tertinggi harga emas Antam yang sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026 lalu, dengan buyback saat itu di level Rp 2.989.000 per gram.
Pelaku pasar kini mencermati rilis data ketenagakerjaan AS dan keputusan suku bunga The Fed berikutnya. Berdasarkan alat pemantau CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September mendatang — faktor yang bisa kembali menekan harga emas dalam jangka menengah.