Gubernur Jateng Luthfi Dukung Pengembangan Rawa Pening Jadi Destinasi Wisata Air, Konservasi Jadi Syarat Mutlak

Penulis: Lukman Hakim  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 15:03:31 WIB
Gubernur Jateng Luthfi menegaskan konservasi sebagai syarat utama pengembangan wisata air Rawa Pening.

SEMARANG — Dukungan penuh dari Gubernur Jawa Tengah Luthfi terhadap rencana pengembangan Rawa Pening sebagai destinasi wisata air unggulan membawa angin segar bagi pariwisata di kawasan aglomerasi Borobudur–Kopeng–Rawa Pening (Bokor). Namun, di balik optimisme itu, ia memasang satu syarat yang tak bisa ditawar: kelestarian fungsi konservasi danau harus tetap menjadi prioritas utama.

Rawa Pening bukan sekadar hamparan air. Danau yang membentang di empat kecamatan di Kabupaten Semarang ini memiliki peran ekologis yang krusial sebagai pengendali banjir, irigasi pertanian, dan habitat berbagai spesies. Oleh karena itu, setiap langkah pengembangan wisata di dalamnya harus diukur secara presisi agar tidak mengorbankan fungsi-fungsi tersebut.

Mengapa Konservasi Jadi Syarat Mutlak?

Fungsi vital Rawa Pening sebagai cagar konservasi adalah alasan utama Gubernur Luthfi menuntut kehati-hatian. Jika pengembangan wisata dilakukan secara serampangan, dikhawatirkan akan memicu pendangkalan lebih parah, pencemaran air, hingga rusaknya ekosistem yang sudah ada. "Ini bukan sekadar proyek wisata, tapi soal menjaga warisan alam untuk anak cucu," ujar Luthfi dalam pernyataannya.

Kawasan Bokor sendiri dirancang sebagai klaster aglomerasi yang menghubungkan Candi Borobudur, kawasan Kopeng, dan Rawa Pening. Tujuannya adalah menciptakan satu destinasi wisata terintegrasi yang mampu menarik wisatawan lebih lama. Namun, tanpa perencanaan matang, potensi bencana ekologis justru mengintai.

Langkah Cermat: Antara Wisata dan Ekologi

Pemerintah provinsi menegaskan bahwa pengembangan Rawa Pening harus berjalan secara cermat. Artinya, setiap pembangunan infrastruktur, mulai dari dermaga, jalur tracking, hingga area kuliner, harus melalui analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang ketat. Tidak boleh ada satu pun proyek yang mengabaikan daya dukung danau.

Selain itu, partisipasi masyarakat sekitar juga menjadi kunci. Warga yang selama ini menggantungkan hidup pada danau harus dilibatkan agar mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian. Program wisata yang diusulkan pun harus berbasis pada potensi lokal, bukan memaksakan konsep yang asing bagi lingkungan setempat.

Apa Langkah Selanjutnya?

Rencana ini masih dalam tahap awal dan membutuhkan kajian teknis lebih lanjut dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan pegiat lingkungan. Pemerintah Kabupaten Semarang sebagai pemilik wilayah diharapkan segera menyusun detail perencanaan yang mengakomodasi kepentingan konservasi dan pariwisata secara berimbang.

Publik pun menanti realisasi dari wacana ini. Jika berhasil, Rawa Pening tidak hanya akan menjadi ikon wisata baru Jawa Tengah, tetapi juga contoh bagaimana pembangunan bisa berjalan selaras dengan alam. Namun, jika gagal, yang dipertaruhkan bukan hanya investasi, melainkan masa depan ekosistem yang telah berusia ratusan tahun.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: radarsolo.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top