JAWA TENGAH — Pekan lalu, SpaceX resmi melantai di bursa saham dengan harga perdana USD 135 per lembar. Langkah ini langsung mendongkrak nilai kepemilikan Elon Musk di perusahaan roket tersebut menjadi sekitar USD 860 miliar. Ditambah dengan kepemilikannya di Tesla dan kenaikan harga saham SpaceX pada hari pertama perdagangan, total kekayaan bersih Musk secara on-paper kini melampaui USD 1 triliun.
Mayoritas kekayaan Musk berasal dari dua perusahaan: Tesla dan SpaceX. Bloomberg News melaporkan, meskipun 1 miliar saham SpaceX miliknya tidak bisa dijual sampai perusahaan berhasil membangun koloni manusia di Mars, Musk tetap bisa meminjam uang dengan agunan saham tersebut. Artinya, ia bisa mengakses miliaran dolar tunai kapan saja—tanpa harus membayar pajak atas keuntungan modal.
Belum lagi paket kompensasi dari Tesla yang disetujui pemegang saham tahun lalu. Paket itu sendiri bisa bernilai USD 1 triliun jika Musk berhasil memenuhi target valuasi dan operasional tertentu.
Meski SpaceX kini punya pemegang saham publik, Musk tetap memegang kendali hampir absolut. Ia memiliki lebih dari 80% hak suara, bisa memilih sendiri dewan direksi, dan telah menyusun struktur perusahaan yang membatasi gugatan hukum secara ketat.
SpaceX sendiri menyebut target pasar yang bisa digarap sebagai “pasar terbesar dalam sejarah”. Namun, perusahaan juga mengakui bahwa misi membangun koloni di Mars—syarat pencairan saham Musk—masuk kategori “tidak mungkin” (improbable).
Momen Musk mencapai status triliuner justru datang saat popularitasnya sedang anjlok. Sepanjang 2024, ia mengucurkan sekitar USD 300 juta untuk mendanai kampanye presiden Donald Trump. Setelah Trump menang, Musk dipercaya memimpin “Departemen Efisiensi Pemerintahan”—yang dalam praktiknya tidak memangkas belanja negara secara signifikan, melainkan lebih banyak membatalkan kontrak tanpa kajian mendalam.
Kebijakan yang lebih kontroversial adalah pembubaran sejumlah badan federal seperti USAID. Menurut Harvard T.H. Chan School of Public Health, keputusan itu telah menyebabkan ratusan ribu kematian akibat terputusnya bantuan kemanusiaan dan program kesehatan global.
Dengan kendali penuh atas SpaceX, akses ke utang tanpa pajak, dan pengaruh politik yang masih kuat, Musk kini berada di puncak kekuasaan dan kekayaan—sekaligus di titik paling dibenci dalam kariernya.