SEMARANG — Puluhan akademisi dan pengajar Bahasa Indonesia dari seluruh Jawa Tengah berkumpul dalam Konferensi Internasional ADOBSI yang digelar di Kota Semarang. Forum ilmiah ini menyoroti bagaimana bahasa Indonesia beradaptasi dan berkembang seiring pengaruh budaya global serta teknologi digital.
Konferensi yang digagas oleh ADOBSI bersama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah ini menghadirkan sejumlah pakar linguistik dan sastra dari dalam dan luar negeri. Para peserta membedah perubahan wacana, diksi, dan struktur kalimat dalam bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh media sosial dan platform digital.
Diskusi juga menyentuh peran dosen dalam menjaga kaidah bahasa tanpa menghambat kreativitas berbahasa di kalangan generasi muda. "Transformasi ini tidak bisa dihindari, tapi harus dikelola agar bahasa Indonesia tetap memiliki akar dan identitas," demikian poin utama yang mengemuka dalam forum.
Ketua ADOBSI dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi riset antarperguruan tinggi untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia di kancah global. Saat ini, bahasa Indonesia telah dipelajari di lebih dari 50 negara dan masuk dalam kurikulum di sejumlah universitas asing.
Konferensi ini menjadi ajang pertukaran metode pengajaran dan penelitian sastra Indonesia kontemporer. Para dosen juga mempresentasikan makalah tentang fenomena kebahasaan, seperti alih kode dan campur kode dalam percakapan sehari-hari, serta pengaruh bahasa gaul terhadap bahasa baku.
Pihak Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah menyatakan dukungan penuh terhadap hasil konferensi ini. Mereka berencana mengadopsi beberapa rekomendasi dari forum tersebut untuk program revitalisasi bahasa daerah dan penguatan bahasa Indonesia di ruang publik.
Ke depan, ADOBSI dan Balai Bahasa akan merumuskan modul pengajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Modul ini diharapkan bisa digunakan oleh dosen di seluruh Indonesia untuk mencetak generasi yang cinta bahasa Indonesia tanpa kehilangan daya saing global.