Microsoft Akhirnya Serius Benahi Pengembangan Aplikasi Windows, Targetkan Aplikasi 100 Persen Native

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 02:08:32 WIB
Microsoft resmi melakukan restrukturisasi besar pada divisi Windows untuk memperbaiki ekosistem aplikasi.

Pekan lalu, dalam gelaran Build 2026, Microsoft mengumumkan perubahan fundamental dalam cara mereka mengelola Windows dan ekosistem aplikasinya. Langkah ini bukan sekadar tambal sulam fitur, melainkan restrukturisasi besar-besaran yang dipimpin langsung oleh Pavan Davuluri, eksekutif yang kini memegang kendali penuh atas divisi Windows.

Dari Era Cloud yang Membosankan ke Kebangkitan Windows

Selama lebih dari satu dekade, Build adalah ajang pamer Azure dan komputasi awan—topik yang nyaris tidak menarik bagi penggemar Windows. Tapi semuanya berubah sejak Microsoft memutuskan untuk bertaruh habis-habisan pada AI pada awal 2023.

Alih-alih sekadar menjejalkan Copilot ke sistem operasi, Microsoft kini sadar bahwa Windows harus menjadi fondasi yang kokoh untuk AI lokal. Tujuannya jelas: memindahkan sebanyak mungkin beban komputasi AI dari server cloud yang mahal ke perangkat pengguna yang gratis.

Enshittification Berakhir? Pelanggan Korporat Kembali Bersuara

Masalahnya, selama bertahun-tahun Microsoft justru memperburuk Windows 11 dengan praktik yang kini disebut enshittification: telemetri paksa, pelacakan data pengguna untuk iklan, bundel aplikasi sampah, serta pemaksaan akun Microsoft dan browser Edge. Kondisi ini sempat mendorong penulis senior Paul Thurrott untuk menerbitkan buku berjudul De-Enshittify Windows 11 sebagai panduan bagi pengguna yang frustrasi.

Yang menarik, perubahan justru datang dari pelanggan korporat—klien paling penting Microsoft. Mereka akhirnya mendorong meja, menolak pembaruan fitur kacau yang dipaksakan setiap bulan. Masalah lain: adopsi Copilot yang rendah. Perusahaan tidak mau mengadopsi AI jika platform dasarnya sendiri tidak stabil.

Janji Aplikasi 100 Persen Native: Antara Ambisi dan Realitas

Di tengah semangat baru ini, seorang pemimpin proyek Windows yang terlalu antusias menyatakan bahwa Microsoft sedang mengerjakan aplikasi Windows yang "100 persen native." Pernyataan ini langsung menuai skeptisisme. Sebab, dalam praktiknya, aplikasi benar-benar native di Windows sudah nyaris tidak ada lagi. Framework pengembangan terbaru Microsoft, Windows App SDK, dinilai buruk dan dijalankan oleh tim kelas C yang tidak punya daya tawar untuk memperbaiki apa pun.

"Orang-orang akan berjanji untuk 'memperbaiki' Windows App SDK. Lalu mereka diam-diam keluar dari Microsoft karena mustahil melakukannya di bawah sistem lama," tulis Thurrott dalam analisisnya.

Restrukturisasi Davuluri: Kunci dari Semua Perubahan

Namun, kali ini ada yang berbeda. Davuluri, yang kini memiliki kekuasaan lebih besar dari pendahulunya, merombak organisasi Windows dari dalam. Fokusnya bukan pada fitur baru yang sensasional, melainkan pada kualitas dasar yang sudah lama dikeluhkan: performa buruk, latensi aplikasi, dan berbagai pain point yang diabaikan sejak bertahun-tahun lalu.

Perubahan ini mengingatkan pada era Windows 7, produk yang mulai dikembangkan secara internal hampir tepat 20 tahun lalu. Saat itu, Microsoft juga harus melakukan reset besar-besaran setelah kegagalan Windows Vista.

Apakah Microsoft kali ini benar-benar serius? Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, ada alasan untuk percaya. Tapi pengembang dan pengguna Indonesia yang masih setia pada Windows tentu berhak menunggu bukti nyata—bukan sekadar janji di panggung Build.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: thurrott.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top