Keputusan CMA ini mengubah secara fundamental hubungan kuasa antara Google dan penerbit konten. Sejak Oktober lalu, CMA telah menetapkan Google sebagai perusahaan dengan "strategic market status" — status yang memberinya kewenangan untuk menerapkan aturan khusus. Kini, aturan itu berbuah konkret: Google harus memberikan kendali penuh kepada publisher atas bagaimana konten mereka dimanfaatkan oleh mesin AI raksasa pencarian tersebut.
Google mengumumkan kepatuhannya terhadap regulasi ini pada Rabu (16/4). Mekanismenya akan diintegrasikan ke dalam Search Console, layanan gratis yang selama ini digunakan webmaster untuk memonitor performa situs mereka di hasil pencarian. Cukup mengaktifkan sebuah toggle, konten situs tersebut tidak akan lagi muncul di fitur AI Overviews, AI Mode, atau AI Overviews di Discover.
Yang menarik, Google memastikan bahwa keputusan publisher untuk keluar dari fitur AI tidak akan mempengaruhi peringkat situs mereka di hasil pencarian tradisional. Ini sinyal penting: Google tidak akan "menghukum" publisher yang menolak AI-nya. Namun, perusahaan juga tidak tinggal diam. Mereka akan menyajikan metrik baru di Search Console — termasuk jumlah impresi dan negara asal lalu lintas dari AI responses — untuk membujuk publisher agar tetap ikut serta.
Google, di sisi lain, tak lupa memamerkan angka pengguna fitur AI-nya: AI Overviews kini memiliki 2,5 miliar pengguna aktif bulanan, sementara AI Mode menembus 1 miliar pengguna. Angka ini jelas dimaksudkan untuk menunjukkan betapa besarnya potensi traffic yang bisa hilang jika publisher memilih opt-out. Namun, bagi banyak media, kehilangan traffic mungkin lebih baik daripada kehilangan kendali atas konten yang dihasilkan dengan biaya besar.
CMA menyebut langkah ini sebagai "world first" yang akan memperkuat posisi tawar publisher, termasuk organisasi berita, dalam negosiasi lisensi konten dengan Google. Artinya, ini bukan sekadar soal teknis; ini soal uang. Publisher kini punya senjata untuk menuntut kompensasi yang lebih adil jika konten mereka tetap ingin digunakan untuk melatih atau menyajikan hasil AI.
Google mengatakan akan menguji fitur ini terlebih dahulu pada sekelompok kecil publisher di Inggris sebelum digulirkan secara global. Bagi publisher di Indonesia, ini berarti perubahan besar mungkin masih beberapa bulan lagi. Tapi arahnya sudah jelas: gelombang regulasi yang menuntut transparansi dan kontrol atas konten di era AI sedang bergerak dari Eropa ke seluruh dunia.
Selain tombol opt-out, Google juga diwajibkan untuk memastikan atribusi konten publisher dalam hasil AI-nya jelas. Google mengklaim telah menambah jumlah tautan inline dalam respons AI dan menambahkan pratinjau situs untuk mendorong klik. Namun, tanpa opsi untuk keluar sepenuhnya, atribusi saja dianggap belum cukup oleh banyak pihak.
Regulasi Inggris ini bisa menjadi cetak biru bagi negara lain. Jika Kominfo atau otoritas persaingan usaha Indonesia mulai melirik praktik serupa, Google mungkin akan menghadapi tekanan yang sama di sini. Pertanyaannya sekarang: berapa lama lagi sebelum publisher Indonesia bisa menekan tombol yang sama?