JAKARTA — Nanik S Deyang, yang dikenal luas sebagai jurnalis senior dan mantan anggota tim sukses Prabowo Subianto, resmi mengemban amanat baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Penunjukan ini langsung mengundang perhatian publik, terutama karena latar belakangnya yang melintasi dua dunia: pers dan politik praktis.
Sebelum menjabat di posisi strategis ini, Nanik memiliki karir panjang di sejumlah media nasional. Ia malang melintang sebagai jurnalis selama bertahun-tahun, membangun reputasi sebagai wartawan yang kerap meliput isu-isu politik dan kebangsaan. Pengalamannya di dunia redaksi menjadi modal utama sebelum akhirnya ia melangkah ke panggung politik.
Perpindahan Nanik dari jurnalistik ke politik terjadi pada momentum Pemilihan Presiden 2019. Ia tercatat aktif sebagai bagian dari tim sukses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Di posisi itu, ia tidak hanya menjadi penggerak di belakang layar, tetapi juga kerap tampil di depan publik sebagai juru bicara atau perwakilan tim.
Keterlibatannya dalam politik praktis membuat namanya semakin dikenal, meski tak lepas dari kontroversi. Salah satu peristiwa yang mencuat adalah keterlibatannya sebagai saksi dalam kasus penyebaran hoaks yang menjerat Ratna Sarumpaet. Kasus itu sempat mengguncang panggung politik nasional pada 2018, dan Nanik menjadi salah satu dari sekian banyak nama yang diperiksa oleh penyidik.
Pada Oktober 2018, Nanik S Deyang diperiksa sebagai saksi oleh penyidik Polda Metro Jaya terkait kasus berita bohong yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Saat itu, Ratna mengaku menjadi korban penganiayaan yang kemudian terbukti tidak benar. Nanik, yang saat itu masih menjadi bagian dari tim sukses Prabowo, dimintai keterangan terkait alur informasi yang beredar di internal tim.
Meski sempat menjadi sorotan tajam media, Nanik tetap melanjutkan karirnya di dunia politik hingga akhirnya kini dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional. Lembaga ini memiliki tugas strategis dalam merumuskan dan mengoordinasikan kebijakan gizi nasional, sebuah isu yang sangat relevan dengan upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dengan latar belakang sebagai jurnalis dan politisi, publik menanti bagaimana Nanik akan menjalankan roda organisasi BGN. Badan ini diharapkan mampu menyusun program konkret yang menyentuh langsung persoalan stunting, malnutrisi, dan ketahanan pangan di tingkat akar rumput. Pengalamannya di dua dunia yang berbeda—media dan politik—bisa menjadi nilai tambah dalam membangun komunikasi publik dan lobi kebijakan.
Belum ada pernyataan resmi dari Nanik soal program prioritas yang akan ia jalankan. Namun, jejak rekamnya yang penuh dinamika menjadi indikasi bahwa kepemimpinannya di BGN akan diawasi ketat oleh publik dan kalangan pemerhati gizi nasional.