SEMARANG — Konsep "Mode Tandur" di sekolah dasar hadir sebagai respons atas kebutuhan mendesak akan pendidikan karakter yang tidak hanya berfokus pada aspek ibadah ritual. Program ini menekankan keseimbangan antara kesalehan pribadi dan kecakapan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Secara filosofis, "Mode Tandur" diambil dari istilah Jawa yang berarti menanam. Dalam konteks ini, sekolah menjadi lahan untuk menanamkan benih-benih moderasi. Dua pilar utama yang diajarkan adalah tasamuh, yaitu sikap toleran terhadap perbedaan keyakinan dan pandangan, serta tahaddur, yang mendorong siswa untuk berperilaku beradab dan santun dalam berinteraksi.
Penerapannya tidak melalui mata pelajaran khusus, melainkan diintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari di lingkungan sekolah. Mulai dari pembiasaan bertegur sapa antarteman yang berbeda latar belakang, hingga diskusi ringan di kelas tentang keberagaman budaya dan agama di Indonesia.
Guru di sekolah-sekolah yang menerapkan program ini dilatih untuk menjadi fasilitator, bukan sekadar pengajar. Mereka memandu siswa untuk saling menghargai pendapat saat kerja kelompok, serta mengajarkan cara menyelesaikan konflik kecil tanpa kekerasan. Materi tentang tokoh-tokoh bangsa yang pluralis juga disisipkan dalam pelajaran kewarganegaraan dan agama.
"Kita tidak ingin melahirkan generasi yang saleh secara ritual namun gagap secara sosial," demikian pernyataan dari penggagas program, menekankan pentingnya keseimbangan antara hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Setelah tahap uji coba di beberapa sekolah, Dinas Pendidikan setempat berencana memperluas penerapan "Mode Tandur" ke lebih banyak institusi pendidikan dasar di wilayah Jawa Tengah. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk mengukur efektivitas metode ini dalam membentuk karakter siswa yang moderat dan toleran.
Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model bagi daerah lain di Indonesia yang tengah mencari cara konkret untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama sejak usia dini. Investasi pada pendidikan karakter seperti ini dinilai lebih efektif daripada penanganan konflik sosial yang bersifat kuratif di kemudian hari.