SOLO — Wali Kota Solo menegaskan bahwa Program GEMAS lahir dari keresahan di lapangan. Banyak siswa mengaku bosan dan menganggap pelajaran sejarah hanya sekadar menghafal nama tokoh dan tahun peristiwa. Melalui program ini, Pemkot Solo ingin membalikkan persepsi tersebut dengan menyajikan sejarah secara lebih kontekstual dan interaktif.
Alih-alih menggunakan buku teks semata, Program GEMAS mengintegrasikan teknologi digital dalam pembelajarannya. Siswa akan diajak mengenal situs-situs bersejarah di Solo melalui tur virtual, mengakses arsip digital, dan berinteraksi dengan konten multimedia. Pendekatan ini dirancang agar siswa tidak hanya mendengar cerita, tetapi benar-benar mengalami dan melihat langsung bukti sejarah.
Pemkot Solo menargetkan ribuan siswa dari berbagai SMP negeri dan swasta di Kota Solo akan menjadi peserta program ini. Tahap awal akan difokuskan pada pengenalan sejarah lokal Keraton Solo, Pasar Gede, dan Benteng Vastenburg. Materi disusun oleh tim ahli sejarah dan guru agar sesuai dengan kurikulum merdeka.
“Kami ingin sejarah itu hidup kembali di mata anak-anak. Bukan lagi hafalan mati, tapi petualangan intelektual yang menyenangkan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo dalam keterangan resminya, Selasa (18/2/2025).
Keunikan program ini terletak pada penggunaan platform digital yang bisa diakses melalui gawai masing-masing siswa. Setiap materi dilengkapi dengan kuis interaktif dan tantangan berbasis lokasi (location-based challenge). Sistem ini memungkinkan siswa mendapat poin dan sertifikat digital setelah menyelesaikan setiap modul.
Sebelum diterapkan secara massal, Pemkot Solo akan menggelar pelatihan bagi guru sejarah SMP pada Maret mendatang. Para guru akan dibekali cara mengoperasikan platform GEMAS dan teknik memandu diskusi sejarah yang lebih hidup. Setelah itu, uji coba terbatas akan dilakukan di lima sekolah sebelum program resmi berjalan penuh pada tahun ajaran baru.
Dengan pendekatan digital dan interaktif ini, Pemkot Solo optimistis stigma pelajaran sejarah sebagai hafalan membosankan perlahan akan terkikis. Generasi muda Solo diharapkan tak hanya cinta teknologi, tetapi juga bangga dengan sejarah kotanya sendiri.