KENDAL — Ketua Gapoktan Krompakan Makmur, Zaim Hasan, mengungkapkan petani bawang merah di Desa Krompakan, Kecamatan Gemuh, sebenarnya mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun. Namun, pola tanam antarpetani masih belum seragam karena berbagai kendala di lapangan.
"Ada selisih satu sampai dua minggu. Penyebabnya mulai dari keterbatasan modal, ketersediaan bibit, sampai biaya perawatan," ujar Zaim, Senin (11/5/2026).
Menurut Zaim, keterbatasan modal menjadi persoalan utama yang dihadapi petani. Sebagian petani yang mengalami kendala permodalan memilih menyewakan lahannya atau beralih menanam jagung. Ia menjelaskan, waktu ideal penanaman bawang merah sebenarnya pada Oktober karena serangan hama relatif lebih rendah, namun musim kemarau membuat pasokan air untuk lahan pertanian terbatas.
Peralihan musim juga memicu meningkatnya serangan OPT yang berdampak pada kualitas hasil panen. Kondisi tersebut menyebabkan harga jual bawang merah di tingkat petani menjadi lebih rendah dari perkiraan.
Kekhawatiran terhadap harga bawang merah juga dirasakan para penebas. Rustam, penebas bawang merah yang telah menjalani usaha selama 13 tahun, mengaku harus lebih berhati-hati dalam memperkirakan keuntungan sebelum membeli hasil panen petani.
"Semua sudah dihitung. Tapi harga jual di luar daerah seperti Jakarta atau Medan belum bisa dipastikan. Harapannya tetap ada margin," kata Rustam.
Ia berharap ada pengaturan pola tanam yang lebih terkoordinasi, ketersediaan gudang penyimpanan, dan keterbukaan informasi harga agar harga bawang merah tetap stabil saat panen raya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Rogojati, membenarkan adanya serangan OPT di sejumlah wilayah sentra bawang merah seperti Kecamatan Gemuh dan Ringinarum. Pihaknya sudah berkoordinasi dan meminta bantuan ke Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian.
Terkait stabilisasi harga bawang merah di pasaran, Pandu menyebut pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi harga karena hal tersebut menjadi kewenangan Dinas Perdagangan. Petani dan penebas kini hanya bisa menunggu kepastian harga di tengah ketidakpastian musim dan serangan hama.