JAWA TENGAH — Laga yang digelar di Stadio Olimpico, Roma, itu menjadi panggung dominasi Inter sejak menit awal. Pelatih Chivu meracik strategi yang tepat untuk membungkam Lazio di kandang sendiri. Hasil ini sekaligus menggenapi raihan trofi domestik Nerazzurri musim 2024/2025 setelah sebelumnya merebut Scudetto.
Gol Bunuh Diri Marusic Membuka Keunggulan
Inter tidak butuh waktu lama untuk memecah kebuntuan. Pada menit ke-20, umpan silang Federico Dimarco dari sisi kiri memaksa bek Lazio, Marusic, mencetak gol bunuh diri. Bola hasil sepakannya tak mampu diantisipasi kiper Motta.
Gol tersebut menjadi pukulan awal bagi Lazio yang tampil tanpa pelatih Maurizio Sarri akibat skorsing. Tim tuan rumah kesulitan membangun serangan balik yang efektif.
Kesalahan Nuno Tavares yang Berujung Bencana
Bencana bagi Lazio datang pada menit ke-35. Bek kiri Nuno Tavares kehilangan bola di area pertahanannya sendiri setelah ditekan Denzel Dumfries. Bola curian Dumfries langsung disambar Lautaro Martinez yang melepaskan tembakan akurat ke gawang Lazio.
Nuno Tavares mendapat rating terendah dalam laga ini, 4.5, akibat blunder fatal tersebut. Pelatih Sarri yang menyaksikan dari tribun pun tak bisa berbuat banyak melihat pertahanan timnya yang rapuh.
Rovella Jadi Satu-satunya Pemain Lazio yang Bersinar
Lazio hanya bisa memperbaiki permainan setelah Nicolo Rovella masuk menggantikan Patric di babak kedua. Gelandang Italia itu mendapat nilai 6.5, tertinggi di kubu Lazio. Kehadirannya membuat Lazio lebih berani memainkan bola ke sepertiga akhir lapangan.
Sayangnya, ketajaman di lini depan tetap menjadi masalah utama. Noslin, Isaksen, dan Zaccagni gagal menciptakan peluang emas meski sudah didukung Rovella.
Trio Inter Bersinar: Dumfries, Dimarco, dan Lautaro
Tiga pemain Inter mendapat nilai tertinggi di angka 7. Dumfries tidak hanya berkontribusi dalam assist untuk gol Lautaro, tetapi juga aktif dalam bertahan. Dimarco menjadi kreator serangan dari sisi kiri dengan umpan-umpan silang berbahaya.
Lautaro Martinez kembali menunjukkan kualitasnya sebagai kapten dan pemimpin lini depan. Ia bermain penuh energi hingga diganti pada menit ke-77. Pelatih Chivu pantas mendapat apresiasi dengan nilai 7 berkat racikan taktik yang sempurna di laga final.
Apa Arti Hasil Ini bagi Kedua Tim?
Bagi Inter, gelar Coppa Italia ini melengkapi musim sempurna mereka. Chivu berhasil membawa Nerazzurri meraih dua trofi domestik di musim debutnya sebagai pelatih. Sementara itu, Lazio harus mengubur mimpi meraih trofi dan tiket Eropa melalui jalur Coppa Italia.
Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi skuad asuhan Maurizio Sarri. Mereka gagal memanfaatkan keuntungan bermain di kandang sendiri dan harus mengevaluasi kembali performa lini belakang yang menjadi titik lemah sepanjang laga.